Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Salah satu inovasi yang paling banyak digunakan saat ini adalah Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Kehadiran AI telah mengubah cara seseorang memperoleh informasi, menyelesaikan pekerjaan, hingga mendukung proses pembelajaran. Berbagai aplikasi berbasis AI, seperti ChatGPT, Gemini, dan teknologi serupa, kini semakin akrab di kalangan mahasiswa. Dalam pembelajaran bahasa Arab, khususnya pada mata kuliah Maharah Kitabah, AI menghadirkan peluang baru yang dapat membantu mahasiswa meningkatkan kemampuan menulis. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, terdapat tantangan yang harus dihadapi agar mahasiswa tetap mampu belajar secara mandiri.
Maharah Kitabah merupakan salah satu keterampilan dasar dalam pembelajaran bahasa Arab yang berfokus pada kemampuan menulis secara baik, benar, dan sesuai dengan kaidah bahasa. Keterampilan ini tidak hanya menuntut penguasaan kosakata (mufradat), tetapi juga pemahaman terhadap tata bahasa (nahwu dan sharaf), kemampuan menyusun gagasan, serta ketelitian dalam menyampaikan pesan secara tertulis. Oleh karena itu, Maharah Kitabah membutuhkan latihan yang terus-menerus. Semakin sering seseorang menulis, semakin baik pula kemampuan yang dimilikinya.
Di tengah perkembangan teknologi, AI menawarkan berbagai kemudahan bagi mahasiswa dalam belajar menulis. Salah satu manfaat yang paling dirasakan adalah kemampuannya memberikan umpan balik secara cepat terhadap hasil tulisan. Mahasiswa dapat mengetahui kesalahan tata bahasa, ejaan, maupun struktur kalimat hanya dalam hitungan detik. AI juga mampu memberikan contoh paragraf, membantu menyusun kerangka tulisan, serta memberikan alternatif kosakata yang lebih tepat sesuai konteks. Dengan adanya bantuan tersebut, proses belajar menjadi lebih efektif karena mahasiswa memperoleh koreksi secara langsung tanpa harus selalu menunggu penjelasan dari dosen.
Selain membantu memperbaiki kesalahan bahasa, AI juga dapat menjadi sumber inspirasi ketika mahasiswa mengalami kesulitan menemukan ide. Tidak sedikit mahasiswa yang memahami materi, tetapi bingung ketika harus memulai sebuah tulisan. Dalam kondisi seperti ini, AI dapat membantu memberikan gambaran awal mengenai topik yang akan dibahas atau menawarkan beberapa sudut pandang yang dapat dikembangkan lebih lanjut. Bagi mahasiswa, hal tersebut tentu sangat membantu, terutama ketika mengerjakan tugas yang membutuhkan kemampuan berpikir kreatif.
Meskipun demikian, penggunaan AI dalam Maharah Kitabah tidak boleh dilakukan secara berlebihan. Kemudahan yang ditawarkan teknologi dapat membuat mahasiswa bergantung pada AI sehingga mengurangi semangat untuk berlatih menulis secara mandiri. Saat ini, tidak sedikit mahasiswa yang hanya memasukkan perintah kepada AI, kemudian menyalin hasil yang diberikan tanpa memahami isi maupun struktur tulisannya. Kebiasaan tersebut memang dapat menyelesaikan tugas dengan cepat, tetapi tidak memberikan pengalaman belajar yang sesungguhnya.
Menurut penulis, inilah tantangan terbesar dalam pemanfaatan AI di dunia pendidikan. Mahasiswa perlu menyadari bahwa tujuan utama Maharah Kitabah bukan sekadar menghasilkan tulisan yang baik, tetapi juga melatih kemampuan berpikir, menyusun ide, dan mengembangkan kemampuan berbahasa Arab secara mandiri. Jika seluruh proses penulisan diserahkan kepada AI, maka keterampilan tersebut tidak akan berkembang secara optimal. AI hanyalah alat bantu, sedangkan kemampuan berpikir tetap harus berasal dari diri mahasiswa.
Selain risiko ketergantungan, hasil yang diberikan AI juga tidak selalu benar. Meskipun teknologi ini mampu menghasilkan tulisan yang terlihat baik, terkadang masih ditemukan penggunaan istilah yang kurang tepat, informasi yang belum terverifikasi, atau susunan kalimat yang kurang sesuai dengan konteks pembelajaran bahasa Arab. Oleh sebab itu, mahasiswa tetap harus melakukan pengecekan ulang terhadap setiap informasi yang diperoleh dari AI. Sikap kritis menjadi kemampuan yang sangat penting agar mahasiswa tidak menerima seluruh jawaban AI tanpa melakukan evaluasi.
Di sisi lain, dosen juga memiliki peran penting dalam mengarahkan pemanfaatan AI. Pembelajaran Maharah Kitabah sebaiknya tidak hanya berorientasi pada hasil akhir berupa tulisan, tetapi juga memperhatikan proses penulisannya. Dosen dapat memberikan tugas yang menuntut mahasiswa menjelaskan bagaimana mereka memperoleh ide, menyusun kerangka tulisan, hingga memperbaiki hasil tulisannya berdasarkan masukan AI. Dengan cara tersebut, mahasiswa tetap aktif berpikir, sementara AI berfungsi sebagai pendamping dalam proses belajar.
UNESCO juga menegaskan bahwa penggunaan AI dalam pendidikan harus berpusat pada manusia (human-centered approach). AI sebaiknya dimanfaatkan untuk mendukung kreativitas, meningkatkan kualitas pembelajaran, dan membantu peserta didik mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi, bukan menggantikan peran manusia dalam belajar. UNESCO juga mengingatkan pentingnya menjaga etika, kejujuran akademik, serta kemampuan peserta didik dalam mengevaluasi informasi yang dihasilkan AI.
Berdasarkan hal tersebut, penulis berpendapat bahwa AI seharusnya dipandang sebagai mitra belajar, bukan sebagai pengganti kemampuan mahasiswa. Mahasiswa tetap harus berusaha menyusun tulisan secara mandiri terlebih dahulu, kemudian memanfaatkan AI untuk memeriksa tata bahasa, memperkaya kosakata, atau memperoleh masukan terhadap hasil tulisannya. Dengan demikian, proses belajar tetap berlangsung secara aktif dan tujuan pembelajaran Maharah Kitabah dapat tercapai.
Pada akhirnya, perkembangan Artificial Intelligence merupakan bagian dari kemajuan teknologi yang tidak dapat dihindari. Kehadirannya memberikan banyak manfaat dalam mendukung pembelajaran, termasuk pada mata kuliah Maharah Kitabah. Akan tetapi, manfaat tersebut hanya dapat dirasakan apabila AI digunakan secara bijaksana dan bertanggung jawab. Mahasiswa perlu menjadikan AI sebagai sarana belajar, bukan jalan pintas untuk menyelesaikan tugas. Dengan memadukan kemampuan berpikir kritis, latihan yang konsisten, dan pemanfaatan teknologi secara tepat, mahasiswa akan mampu meningkatkan keterampilan menulis bahasa Arab sekaligus mempersiapkan diri menghadapi tantangan di era digital.
Penulis: Zulfikar Keluan (Mahasiswa IAT Semester IV Institut As-Syifa)
![]()







