Lingkungan sekitar kita adalah tanggung jawab masing masing, dan masalah sampah adalah hal yang harus mendapat perhatian lebih dari semua orang baik dari kalangan atas maupun bawah, karna setiap individu pasti menciptakan sampah, akan tetapi kesadaran masyarakat akan hal ini sangat minim hal ini dapat dilihat dari pengelolaan sampah di masyarakat yang tidak baik. Pengelolaan sampah yang tidak baik dapat berdampak buruk pada lingkungan dan membuat suasana yang tak nyaman, jika masalah ini dibiarkan saja akan menyebabkan bom waktu, penyakit dimana mana, pencemaran lingkungan, rusaknya ekosistem alam, dan juga bencana alam.

Menurut data dari statistic pengelolaan sampah dari Kementrian Lingkungan Hidup, terdapat 517 TPA (Tempat Pembuangan Akhir) di Indonesia, dan terdapat 75% sampah yang belum terkelola. Dan berdasarkan Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) yang juga dikelola Kementrian Lingkungan Hidup, lebih dari setengah total timbunan sampah dihasilkan dari sampah rumah tangga, yaitu mencapai 56,7%. Nah saat ini belum ada system yang tegas dalam pengelolaan sampah yang baik, sehingga pada tahun 2025 tercatat total timbunan sampah di Indonesia mencapai 24,8 juta ton per tahun (GoodStats). Bayangkan saja jika hal ini terus berlanjut, maka Indonesia akan menjadi lautan sampah.

Dalam hal ini pemerintahan harus mengambil peran dan bergerak cepat dalam menyadarkan masyarakat dan membuat system pengelolaan sampah yang baik, pemerintahan juga diharapkan memberi dukungan untuk individu atau sekelompok komunitas yang fokus bergerak dalam hal ini. Apresiasi kepada individu atau kelompok yang peduli terhadap lingkungan sangat dibutuhkan, karna kepedulian meraka serta keluangkan waktu juga tenaga yang diberikan dapat mengajak orang orang untuk peduli terhadap lingkungan sekitarnya, contoh individu itu adalah jerhemy owen, lulusan dari Avans University of Applied Scieces Belanda di bidang ilmu Lingkungan. Di akun media social instagramnya @jerhemynemo, yang memiliki 1,7 juta pengikut dia aktif pada konten yang membahas isu lingkungan, dan juga membuat program program yang baik untuk meminimalisir sampah plastik, contohnya membuat pabrik plastik mini, disana dia dapat merubah sampah tutup botol plastik menjadi barang yang dapat dijual kembali. Dia juga berkolaborasi dengan Rekosistem untuk membangun Waste Station yang bertujuan membuat tempat setor sampah anorganik, yang selanjutnya akan diolah menjadi barang barang yang lebih bermanfaat. Dan saat ini dia sedang menjalankan misi bersama Forum Konservasi Leuser, KPH dan juga warga sekitar Tenggulun, Aceh Tamiang dalam penebangan 10 hektar pohon sawit illegal yang tumbuh dikawasan hutan lindung Aceh Tamiang, dan selanjutnya akan ditanam sekitar 150.000 pohon kembali untuk mengembalikannya menjadi hutan.

Permasalahan sampah di Indonesia seharusnya menjadi salah satu perhatian penting bagi setiap orang, sebagai rakyat biasa kita dapat membuat pengelolaan sampah mandiri mulai dari rumah, mulai dari meminimalisir penggunaan plastik, membuat komposter dari sisa sampah rumah tangga dan memanfaatkannya untuk tanaman sekitar kita atau bisa dengan memilah sampah dan menyetorkannya ke tempat setor sampah seperti waste station. Pentingnya memilah sampah untuk menguragi potensi bencana alam, karna sampah organik sisa makanan yang tak terolah dan kurang oksigen dapat menghasilkan gas metana, meskipun gas ini tidak beracun tapi apabila bercampur dan menumpuk dalam jumlah besar dengan sampah sampah yang ada di TPA dapat mengakibatkan kebakaran dan mengancam kesehatan. 

Pada tanggal 30 Juni kemarin terjadi ledakan besar di TPA Jatiwaringin, Tangerang. Menurut data dari Detiknews, sampai 7 Juli terhitung proses pemadaman masih di angka 45% dari total lahan terbakar sekitar 14 hektar, pemadaman terus berlanjut tapi masih banyak asap mengepul, yang kemungkinan berasal dari api yang masih menyala didalam tumpukan sampah. Pengepulan asap tebal mengakibatkan banyak warga terhalang kegiatannya dan terkena dampak penyakit, terhitung 139 warga terkenan ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut). Dari sini kita bisa lihat betapa berbahayanya penumpukan sampah yang tidak terolah dengan baik di TPA dan terhitung penumpukan sampah di TPA Jatiwaringin mencapai 20-30 meter tingginya dan sampai saat ini banyak truk pengantar sampah masih terus menyumbangkan sampah perharinya.

Di sisi lain beberapa warga memilih sengaja membakar sampahnya. Padahal, membakar sampah berdampak tidak baik untuk kesehatan, karna dapat memicu zat kimia yang berbahaya seperti karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan juga zat zat yang dapat menjadi polusi udara yang menimbulkan gejala batuk, dan permasalahan pernafasan. Dari pada membakar sampah ada solusi lain untuk meminimalisir sampah, yaitu dengan memelihara maggot untuk menjadi alat penghancur sisa sampah rumah tangga. Maggot dapat berkembang biak dengan cepat, karna itu maggot dapat mengurai limbah organik dalam jumlah besar, mereka dapat memakan sisa maknan yang bahkan sulit terurai dan dapat menjadi pakan ternak atau pupuk. Selain itu budidaya maggot juga menjadi peluang usaha baru untuk bidang peternakan dan pertanian.

Oleh: Nasywa Salwa Hafizhah (Mahasiswa IAT Semester IV Institut As-Syifa)

Loading

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

nineteen − 15 =