Di era perkembangan zaman yang begitu pesat dan teknologi yang begitu canggih telah mengubah cara manusia memperoleh informasi. Jika dahulu memperoleh informasi harus datang ke perpustakaan atau membeli koran, kini seluruh informasi bisa kita dapatkan dengan mudah hanya dengan membuka layar ponsel sudah tersedia berbagai platform digital untuk membuka sumber informasi, contohnya yang paling populer sekarang ada AI, Google, dll, yang menawarkan kemudahan mencari informasi secara cepat.

Namun ironinya kemudahan informasi di zaman modern ini justru menguak fakta yang sangat memprihatinkan khususnya di Indonesia, data mencatat menurut UNESCO minat baca di Indonesia hanya mencapai 0,001%. Artinya di antara 1.000 orang Indonesia, hanya 1 orang yang suka membaca, yang artinya sangat minim minat literasi di kalangan masyarakat juga mahasiswa, yang harusnya menjadikan literasi sebagai fondasi untuk mengembangkan pola pikir agar bisa berpikir kritis, sayangnya kemudahan informasi tidak selalu membuat masyarakat menjadi gemar membaca.

Rendahnya minat membaca menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat yang belum memahami makna literasi secara utuh. Literasi tidak hanya berarti kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami, mengolah, serta memanfaatkan informasi secara kritis dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, kemudahan memperoleh informasi seharusnya mendorong masyarakat untuk meningkatkan kualitas literasi, bukan justru mengurangi kebiasaan membaca. 

Kemudahan Informasi di Era Digital

Menurut saya internet telah memudahkan kita dengan membuka jutaan platform digital untuk mencari ilmu pengetahuan, seperti jurnal ilmiah, buku elektronik, video pembelajaran, artikel, bahkan perpustakaan digital kini bisa di akses kapan saja dan di mana saja. Selain itu kecerdasan buatan atau lebih sering kita sebut AI kini lebih mempermudah kita untuk mencari jawaban dari berbagai pertanyaan.

Kemudahan tersebut sebenarnya membuka peluang yang sangat besar untuk kita semua meningkatkan kualitas pendidikan dengan adanya bantuan dari berbagai platform digital juga AI yang sangat mempermudah, namun sayangnya kemudahan ini tidak dimanfaatkan dengan begitu baik oleh sebagian kita untuk meningkatkan dan memperdalam ilmu pengetahuan.

Mengapa Budaya Literasi Mulai Memudar?

Jika kita perhatikan ada beberapa faktor penyebab memudarnya literasi di kalangan masyarakat atau pendidikan, yaitu pola pikir manusia di zaman modern ini telah terdistraksi dengan adanya fenomena serba instan. Kemudahan yang kita dapatkan dengan adanya berbagai platform digital yang mempermudah kita mencari sumber ilmu pengetahuan justru membuat kita semua menjadi malas berpikir secara mendalam. Banyak orang lebih memilih sumber informasi atau jawaban secara instan daripada meluangkan waktu untuk membaca, memahami, dan menganalisis sumber informasi secara utuh.

Kondisi ini menurut saya semakin parah ketika munculnya AI. Kenapa?, karena bagi beberapa orang yang literasinya rendah AI bagaikan jalan pintas karena berbagai informasi dapat dengan mudah kita dapatkan hanya dengan hitungan detik, tanpa harus membaca buku atau membuka artikel, akibatnya AI sering disalahgunakan pemanfaatannya sehingga tingkat literasi semakin menurun. Padahal hakikat literasi bukan hanya sekedar menemukan informasi secara cepat tetapi bagaimana kita mampu memahami, mengolah, dan memanfaatkan informasi dengan baik.

Juga dengan adanya berbagai media sosial yang membuat seseorang terus terlena dengan konten-konten yang disediakan di media tersebut sehingga tanpa sadar sudah menghabiskan berjam-jam hanya untuk scroll konten yang menurutnya menarik, sehingga akibatnya buku atau tulisan di berbagai media informasi dianggap membosankan.

Dampak Menurunnya Budaya Literasi & Solusi Membangun Budaya Literasi

Saya mencantumkan beberapa dampak negatif yang paling menonjol yaitu diantaranya : 

a. Menurunnya kemampuan berpikir kritis

Kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan seseorang untuk memahami, mendalami, mengkaji berbagai sumber informasi dari berbagai sudut pandang kemudian menarik kesimpulan berdasarkan informasi yang diterima. Tentunya kemampuan ini tidak diperoleh secara instan, melainkan terbentuk karena kebiasaan membaca, mengkaji informasi, juga berdiskusi.

b. Mudah percaya hoaks

Minimnya literasi juga berdampak kepada seseorang dalam menerima informasi, orang yang minim literasi biasanya mudah terjebak ke dalam informasi palsu atau hoaks, dikarenakan  lebih cenderung menerima informasi secara langsung atau hanya dari sampulnya saja tanpa memeriksa sumber informasi secara jelas atau benar tidaknya

c. Kualitas lulusan pendidikan ikut menurun

Menurunnya minat literasi tidak hanya berdampak pada proses belajar mengajar di bangku pendidikan tetapi juga juga mempengaruhi di kualitas lulusan Pendidikan tersebut. Orang yang minim literasi biasanya hanya memiliki pemahaman yang rendah, mereka mungkin lulus tetapi belum tentu memiliki kemampuan atau ilmu yang seharusnya dimiliki oleh seseorang yang berpendidikan

Saya berpendapat bahwa membangun kembali budaya literasi memang tidak mudah, memerlukan prinsip dan konsistensi yang kuat yang harus ditanamkan kepada diri sendiri. Sebelumnya kita harus paham dulu seberapa penting literasi di dalam kehidupan kita, juga memerlukan waktu yang tidak sebentar karena membangun kebiasaan baru tidak semudah membalikkan telapak tangan. Untuk memulainya kita tidak harus membaca satu buku penuh atau seharian penuh cukup dengan menerapkan target sehari minimal 30 menit kita luangkan untuk membaca

Dikalangan pendidikan sekolah atau kampus dapat mengadakan kegiatan literasi seperti bedah buku, seminar, dan diskusi ilmiah. Selain itu, teknologi digital hendaknya dimanfaatkan sebagai sarana belajar, bukan hanya sebagai media hiburan. Sebagai seorang muslim, semangat membaca juga sejalan dengan ajaran Islam, wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad saw. diawali dengan perintah Iqra (bacalah), yang menunjukkan bahwa membaca dan menuntut ilmu merupakan fondasi penting dalam kehidupan.

Kemudahan memperoleh informasi merupakan salah satu keuntungan terbesar di era digital. Berbagai platform digital, internet, dan kecerdasan buatan (AI) telah memberikan akses yang sangat luas terhadap ilmu pengetahuan. Namun, kemudahan tersebut tidak akan memberikan manfaat apabila tidak diimbangi dengan budaya literasi yang baik. Informasi yang melimpah bukanlah jaminan seseorang memiliki pengetahuan yang luas, sebab pengetahuan hanya dapat diperoleh melalui kebiasaan membaca, memahami, mengkaji, dan berpikir secara kritis.

Oleh karena itu, sudah saatnya kita membangun kembali budaya literasi, terutama di kalangan pelajar dan mahasiswa sebagai generasi intelektual. Teknologi hendaknya dimanfaatkan sebagai sarana untuk memperkaya wawasan, bukan sebagai jalan pintas yang membuat kita malas berpikir. Sebagaimana ajaran Islam yang diawali dengan perintah Iqra’ (bacalah), membaca merupakan langkah awal dalam memperoleh ilmu dan membentuk peradaban. Dengan menjadikan literasi sebagai budaya, kita tidak hanya mampu menghadapi derasnya arus informasi, tetapi juga menjadi pribadi yang kritis, bijaksana, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan serta pembangunan bangsa.

Penulis: Soleh Iman Ramadhan (Mahasiswa IAT Semester IV Institut As-Syifa)

Loading

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

5 − 4 =