Banyak pertanyaan di kepala saya mengapa Islam itu ditinggalkan? Mengapa banyak manusia sekarang menjauhinya? Kenapa tidak dipelajari? Kenapa dan kenapa? Benarkah Islam mulai ditinggalkan? Padahal Islam pernah berada dalam masa keemasannya (golden age Islam) yaitu masa Ummayah dan Abbasiyah di mana pada masa itu Islam sendiri sangat penuh akan ilmu, pemikiran, jawaban dan tantangan apapun pada masa itu bisa dijawab oleh Islam, lalu siapakah yang bersalah atas ini, Islamnya atau kitanya sebagai umatnya. Ceramah demi ceramah disampaikan, seminar demi seminar diadakan, tetapi jarak antara umat dan ajarannya justru terasa makin lebar. Kita lalu buru-buru menuding smartphone, media sosial, budaya Barat, atau sistem pendidikan kita sebagai biang keladinya. Padahal, bisa jadi persoalannya lebih sederhana sekaligus lebih menyakitkan untuk diakui bahwasanya Islam ditinggalkan bukan karena ajarannya keliru atau salah, melainkan karena kita, umatnya, gagal menunjukkan bahwa Islam itu benar-benar berguna dalam kehidupan sehari-hari.

Coba kita renungkan dan pikirkan bagaimana cara Islam memperkenalkannya kepada generasi sekarang, Islam sering hadir dalam bentuk larangan, hukuman dan ancaman akan neraka, jauh dari penjelasan bagaimana ajaran ini menjawab tantangan kehidupan masyarakat sekarang dan menyelesaikan masalah nyata yang masyarakat hadapi. Ketika masyarakat mengalami depresiasi, tekanan hidup, tidak tahu mau kemana arah hidupnya, malahan ajaran Islam di sini diperkenalkan dengan kata justru kalian harus bersyukur lalu menjelaskan dengan kisah masa lalu, ini bukannya menjawab masalah psikologis mereka malahan menjadi beban buat mereka untuk apa mendengarkan jadinya karena pada dasarnya Islam jarang diperkenalkan sebagai konsep tawakal, syukur, atau ketenangan dalam ibadah bisa menjadi solusi psikologis yang nyata. Masyarakat lebih sering mendengar apa yang haram ketimbang bagaimana yang halal itu membebaskan. Wajar jika kemudian agama terasa sebagai beban yang berisi daftar larangan, bukan sebagai sumber daya yang bisa dipakai untuk menjalani hidup dengan lebih baik.

Kita juga sering lupa bahwasanya generasi sekarang tumbuh dalam budaya yang sangat berkiblat pada bukti dan manfaat langsung. Mereka bertanya, secara sadar maupun tidak, apa gunanya sesuatu bagi hidup mereka sebelum mau berkomitmen padanya. Sialnya, banyak dari kita yang mengajarkan Islam justru gagap menjawab pertanyaan ini. Kita bisa menjelaskan dalil dengan fasih, tetapi kesulitan menjelaskan bagaimana dalil itu relevan dengan hubungan pertemanan yang rumit, atau kecemasan finansial yang menghantui banyak khususnya anak muda. Padahal, Islam sesungguhnya kaya dengan jawaban atas persoalan-persoalan itu, mulai dari etika sosial, pengelolaan harta, hingga cara menjaga hubungan sosial. Masalahnya bukan pada kekosongan isi Islamnya, melainkan pada kegagalan kita menerjemahkannya ke dalam bahasa yang menyentuh akan kebutuhan zaman.

Sementara itu, sebagian dakwah keagamaan masih berputar pada gaya penyampaian yang monoton, normatif, dan sering kali menghakimi yang mengakibatkan banyak masyarakat menjauhinya. Fenomena ini semakin terasa ketika kita membandingkan cara agama disampaikan dengan cara dunia modern menjual gagasannya, semuanya berlomba menunjukkan manfaat nyata secara cepat dan meyakinkan. Ironisnya di sini, banyak nilai yang ditawarkan gagasan tersebut yang tercurahkan kepada buku-buku dan konten-konten pengembangan diri, motivasi khususnya di YouTube, TikTok, itu sebenarnya sudah lama diajarkan Islam duluan, mulai dari pentingnya rasa syukur, disiplin diri, hingga menjaga hubungan baik dengan sesama. Bedanya di sini, mereka itu pandai mengemas dan membuktikan manfaatnya, sementara kita sebagai umat Islam sering hanya mengulang normanya tanpa menunjukkan dampaknya.

Untuk memutarbalikkan keadaan ini, justru kita harus mengubah pola pikir atau cara berpikir dalam berdakwah dan mendidik, alih-alih menegaskan sesuatu itu wajib atau haram, melainkan bagaimana kita menjelaskan sesuatu itu masuk akal dan dampak akan kebermanfaatannya dalam kehidupan, contoh ketika membahas shalat, misalnya, tidak cukup hanya menegaskan kewajibannya; perlu juga dijelaskan bagaimana shalat bisa menjadi jeda untuk menenangkan pikiran di tengah tekanan hidup yang padat. Ketika membahas zakat dan sedekah, tunjukkan pula bagaimana keduanya berkontribusi nyata pada pemerataan ekonomi dan solidaritas sosial, bukan sekadar kewajiban ritual tahunan. Pendekatan semacam ini justru tidak mengurangi kesakralan agama, malahan membuatnya semakin hidup dan terasa dekat dengan keseharian masyarakat.

Pada akhirnya, menjauhnya sebagian umat dari ajaran Islam semestinya menjadi cermin bagi kita semua, bukan hanya bahan untuk menyalahkan pihak luar. Islam sebagai ajaran tidak pernah kehilangan relevansinya, karena nilai-nilai keadilan, kejujuran, kasih sayang, dan ketenangan batin yang ditawarkannya selalu dibutuhkan manusia di zaman apa pun. Yang perlu dibenahi adalah cara kita, sebagai umatnya, dalam menghadirkan dan membuktikan manfaat itu di tengah kehidupan yang terus berubah. Jika kita mampu menunjukkan bahwa Islam benar-benar berguna, bukan hanya benar secara kepercayaan, boleh jadi masyarakat khususnya generasi muda akan kembali mendekat, bukan karena dipaksa, melainkan karena mereka sendiri merasakan manfaatnya.

Oleh: Rahmad Satria Darmawan (Mahasiswa IAT Semester IV Institut As-Syifa)

Loading

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

three + 1 =