Modernitas di era 21 sering kali memaksa saya untuk menjalani kehidupan dengan cepat dan dikelilingi oleh batasan sosial yang semakin ketat. Di perkotaan besar, tembok rumah dibangun menjulang tinggi, gerbang besi dikunci dengan rapat, dan komunikasi antar tetangga sering kali hanya sebatas bunyi klakson atau tatapan singkat di depan lift gedung. Individu modern sering kali terperangkap dalam sebuah ironi berada di tengah keramaian namun mengalami kesepian yang sangat mendalam.

Desa Kalimanggis di sinilah saya tinggal, sebuah sudut rumah yang tak hanya memanjakan mata dengan lingkungannya yang asri, tetapi juga menghangatkan jiwa melalui senyum tulus warganya di sinilah tercipta pemandangan yg indah, udara yang sejuk, suara kicauan burung yang begitu riuh di padukan dengan senyum tulus yang selalu mekar di setiap sudutnya, juga tegur sapa yang ramah dari warga masyarakatnya. bagiku ini adalah  melodi indah harian yang selalu menyambutku. 

Sopan santun bukan lagi sekadar aturan tertulis yang dipaksakan, melainkan sebuah naluri yang mendarah daging, di mana yang muda menghormati yang tua, dan yang tua menyayangi yang muda dengan penuh kasih, siapa yang tidak nyaman dengan suasana seperti ini, saya yakin semua orang yang tinggal di desa ini akan merasakan hal yang mungkin sama,sayapun bangga bisa menjadi bagian dari masyarakat desa Kalimanggis, tak heran banyak pendatang seperti saya bisa langsung beradaptasi dan nyaman dengan lingkungan sekitar di sini, menurut warga di sini “sopo wonge sing tahu maring desa Kalimanggis cem kerasan” yang artinya “siapa saja yang datang ke desa Kalimanggis ini pasti akan betah” begitu kira-kira artinya karena diri sayapun belum lama tinggal di desa ini jadi belum terlalu paham akan bahasanya, 

Lalu pasti akan muncul di benak kita bagaimana bisa tercipta sebuah lingkungan yang harmoni di tengah gempuran zaman yang serba individualis? 

“Sejatinya kenyamanan dari sebuah tempat tinggal tidak hanya ditentukan oleh kebersihan fisiknya saja, tetapi jauh lebih mendalam, ia lahir dari kehangatan jiwa masyarakatnya yang saling menghormati dan hidup penuh kasih sayang. “

Desa Kalimanggis dengan lingkungan yang asri dan tatanan bangunan yang cukup rapi hingga ketika orang lain melewati desa ini mereka mengira desa ini seperti lingkungan perumahan,karena tempatnya asri dan tertata. Keramahan yang tercermin di tempat ini bukan sekadar formalitas, tetapi merupakan gambaran dari individu-individu yang memiliki kedamaian batin dengan diri mereka serta lingkungan di sekitar. 

Lingkungan yang bersih dan asri tidak tercipta secara kebetulan, melainkan merupakan cerminan langsung dari karakter masyarakatnya yang menjunjung tinggi sopan santun, kepedulian akan kebersihan serta rasa hormat antar sesama. Penduduk di tanah ini memahami betul bahwa alam adalah ibu yang memberi kehidupan, bukan komoditas yang harus dieksploitasi demi keuntungan sesaat.

Kebersihan lingkungan yang konsisten di tempat tinggal kami bukan terjadi karena adanya petugas kebersihan yang setiap harinya mengambil sampah, melainkan buah dari kesadaran warga masyarakatnya itu sendiri, karena kami menyadari akan bahaya yang ditimbulkan ketika sampah di buang dengan sembarangan, begitupun dengan rasa hormat yang di junjung tinggi yang muda menghormati yang lebih tua dan sebaliknya, dan yang lebih membuat saya takjub adalah ketika ada salah satu warga atau masyarakat yang sedang mengalami kesulitan ataupun yang sedang sakit warga di sini dengan sigap mengumpulkan donasi swadaya dan bergiliran mengirimkan makanan ke rumah yang bersangkutan. Mereka tidak memperhitungkan keuntungan dan kerugian atau waktu kerja, mereka hanya menyadari bahwa beban yang dipikul seseorang adalah tanggung jawab bersama. Di desa ini, tak ada seorang pun yang sesungguhnya menjadi orang luar karena setiap ucapan salam merupakan tawaran tersirat untuk bersantai dan bergabung dalam komunitas besar yang akrab. Hubungan sosial tidak terbentuk berdasarkan kondisi finansial atau kebangsaan, tetapi berlandaskan penghargaan timbal balik antar individu. Napas kehidupan warga semakin menawan berkat tradisi saling menolong yang melebihi batas transaksi modern. Di luar sana, sering kali bantuan diukur dengan benda atau lewat pertimbangan keuntungan dan kerugian. Namun di desa ini kerjasama merupakan tindakan nyata yang muncul secara tiba-tiba dari semangat empati.

Sesuai dengan konsep yang diajukan oleh Wilson, kedamaian mental yang muncul melalui kedekatan dengan alam inilah yang pada akhirnya merubah perilaku masyarakat di Tanah Sapaan menjadi individu yang bersahabat, senang berinteraksi, dan mengedepankan kerja sama. Lingkungan yang sehat terbukti menciptakan masyarakat yang social sehat.

Di tengah dunia modern yang saat ini mulai rapuh karena egoisme, keletihan, dan keterasingan sosial, Desa Kalimanggis muncul sebagai tanda pengingat yang tegas, tempat ini membuktikan bahwa kebahagiaan hidup yang sesungguhnya tidak diukur dari tinggi bangunan atau kecepatan akses internet, melainkan dari seberapa harmonis kita hidup berdampingan dengan alam, serta seberapa tulus kita bersedia membuka hati untuk membantu sesama. Kembali ke tanah yang hijau dan bersahabat sejatinya merupakan jalan untuk menjadi manusia yang utuh.

Saya memahami  bahwa standar kehidupan tidak ditentukan oleh kemewahan gedung-gedung beton yang kita miliki, melainkan oleh seberapa baik kita merawat lingkungan dan seberapa erat hubungan antarindividu yang kita jalin. Hidup dalam keharmonisan dengan alam dan bersikap ramah kepada tetangga adalah kekayaan yang semakin sulit ditemukan, tetapi kita selalu memiliki kesempatan untuk menghidupkannya kembali jika kita bersedia merendahkan ego dan membuka diri untuk saling menyapa.

Disusun Oleh: Dede Nurhayani (Mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Institut As-Syifa)

Loading

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

four × 3 =