“Setiap orang adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari No 1829).

“Siapa yang ingin jadi pemimpin?”. Pertanyaan sederhana ini hampir selalu disambut dengan antusias. Tidak sedikit anak-anak, pelajar, maupun mahasiswa yang bercita-cita menjadi pemimpin, baik sebagai guru, kepala sekolah, pemimpin organisasi, pengusaha, maupun pemimpin bangsa. Namun, di balik cita-cita itu, muncul pertanyaan yang patut direnungkan: apakah menjadi pemimpin hanya tentang meraih jabatan ataukah tentang kesiapan memikul amanah? Mimpi tersebut merupakan hal yang positif karena menunjukkan adanya harapan untuk kontribusi bagi masyarakat. Akan tetapi, menjadi pemimpin bukan persoalan meraih jabatan, melainkan kesiapan memikul amanah dan tanggung jawab. Tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini jauh lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya. Berada di pusaran era disrupsi digital dan globalisasi, pemuda dengan sangat mudah terpapar pada berbagai nilai yang saling berbenturan. Fenomena krisis identitas, maraknya pragmatisme, memudarnya integritas, hingga rapuhnya resiliensi mental akibat tekanan sosial media menjadi bukti nyata adanya ancaman degradasi moral (Hasanah & Rahmawati, 2023). Pemuda hari ini pintar secara digital, namun rentan mengalami disorientasi nilai. Kehilangan kompas moral inilah yang membuat banyak potensi kepemimpinan muda layu sebelum berkembang, atau justru terjebak pada pusaran kompetensi tanpa hati (competence without character). Realitas kehidupan saat ini memperlihatkan bahwa masyarakat masih dihadapkan pada berbagai persoalan yang berkaitan dengan kepemimpinan.

Menurut Kuntowijoyo dalam bukunya yang berjudul Selamat Tinggal Mitos, Selamat Datang Realitas menyatakan bahwa bangsa Indonesia sedang mengalami krisis, yaitu krisis keteladanan. Ikhlas telah digantikan oleh pamrih, altruisme digantikan oleh individualisme. Generasi muda telah kehilangan teladan karena yang dahulunya pahlawan sekarang dapat berubah menjadi pengkhianat, sebaliknya yang dulunya pengkhianat bisa berubah menjadi pahlawan. Yang dulunya menjadi bagian dari demonstran untuk meruntuhkan orde baru sekarang malah menjadi teknokrat yang anti kritik. Ada kemungkinan kita sedang mengalami penyusutan nilai, pengalaman, dan kebijakan. Pemimpin yang seharusnya mampu memberikan keteladanan yang baik pada masyarakat justru melakukan tindakan yang jauh dari kata teladan. Perilaku korupsi, hidup mewah ditengah masyarakat yang kelaparan, dan memudarnya kepedulian terhadap penderitaan rakyat sudah menjadi warna kehidupan para pemimpin. Nilai, moral, kejujuran, dan kebenaran yang selalu digaung-gaungkan tidak lagi menjadi landasan bagi pemimpin untuk menentukan kebijakan. Parahnya, perilaku yang harusnya di adili ini malah dilindungi oleh hukum. Penegak hukum sebagai benteng keadilan justru kerap kali tidak berpihak kepada kebenaran. Berita tindak korupsi dan penyuapan tidak hanya dilakukan oleh para pejabat pemerintahan tapi juga dilakukan oleh penegak hukum, sehingga kita juga sering mendengar ada banyak hakim, jaksa dan pengacara yang tertangkap tangan terlibat dalam kasus korupsi dan penyuapan. Menurut databoks, berdasarkan data KPK jumlah aparat penegak hukum yang tersandung kasus korupsi (2004-2022) ada sebanyak 34 orang, dengan rincian ada 21 koruptor dengan jabatan hakim, 10 koruptor dengan jabatan jaksa, serta 3 orang dari kepolisian. Jumlah tersebut merupakan jumlah yang telah tertangkap dan telah berurusan dengan hukum, namun untuk kasus yang tidak tertangkap mungkin saja akan lebih banyak dan bahkan institusi pemerintahan yang dianggap sebagai lembaga yang sahid pun telah ikut terlucuti. Ketika lembaga tertinggi dan terhormat telah ternodai, maka lapisan bawah dalam hal ini adalah masyarakat ikut mengalami tekanan berat yang mengakibatkan perubahan sudut pandang terhadap pemerintahan dan masa depan negara. Jika kita sudah kehilangan examplary center yang baik maka akan sulit mengarahkan orang ke jalan yang lebih baik, begitu pula dengan generasi muda sekarang mereka akan sulit menjadi pribadi yang bermoral karena minimnya role model yang memberikan contoh perilaku bermoral di zaman ini.

Mimpi Menjadi Pemimpin Dimulai dari Karakter

Setiap perubahan besar dalam sejarah sebuah peradaban selalu menempatkan generasi muda sebagai aktor utamanya. Pemuda adalah pemilik sah dari masa depan: di tangan merekalah arah, warna, dan kualitas suatu bangsa ditentukan (Arifin, 2021). Memiliki mimpi untuk menjadi seorang pemimpin adalah langkah awal yang krusial bagi setiap pemuda karena mimpi melahirkan visi, dan visi menggerakkan aksi. Namun, dalam realitas empiris hari ini, jarak antara mimpi tersebut dengan realitas kepemimpinan yang nyata seringkali dipisahkan oleh jurang yang teramat dalam; visi yang besar tanpa fondasi karakter yang kokoh hanya akan melahirkan ambisi kekuasaan yang tuna moral dan destruktif (Lickona, 2013). Pertanyaannya kemudian, ketika tongkat estafet masa depan bangsa siap diserahkan, bagaimanakah cara menjembatani mimpi besar generasi muda agar tidak sekadar menjadi angan-angan, melainkan bertransformasi menjadi karakter pemimpin nyata yang berlandaskan nilai-nilai transendental Al-Qur’an?

Mimpi menjadi pemimpin adalah salah satu dorongan paling universal dalam sejarah manusia.Secara psikologis, manusia memiliki kebutuhan dasar yang disebut kebutuhan akan kemandirian (need for autonomy). Banyak orang ingin memimpin karena mereka tidak suka disetir oleh orang lain. Menjadi pemimpin memberikan kekuatan untuk menentukan arah, membuat keputusan, dan mengendalikan nasib sendiri maupun kelompoknya, alih-alih hanya menjadi pelaksana dari keputusan orang lain.Menjadi pemimpin secara otomatis menaikkan status sosial seseorang di dalam ekosistemnya. Ada rasa hormat, prestise, dan pengakuan dari lingkungan yang memuaskan ego atau kebutuhan eksistensial manusia. Posisi ini memberikan panggung untuk didengar, dihormati, dan memiliki pengaruh besar dalam mengubah kebijakan atau aturan.Sejak zaman primitif hingga modern, pemimpin hampir selalu mendapatkan porsi sumber daya yang lebih besar baik berupa materi, fasilitas, jaringan (networking), hingga kompensasi finansial. Bagi sebagian orang, dorongan ini bersifat pragmatis: kepemimpinan adalah jalur tercepat menuju kesejahteraan dan keamanan posisi sosial.Tidak semua orang mengejar kepemimpinan demi ego. Ada kelompok orang yang didorong oleh rasa gelisah melihat ketidakadilan, kekacauan, atau potensi yang tersia-sia di sekitarnya. Mereka ingin memimpin karena merasa memiliki visi solusi yang lebih baik dan ingin melayani serta membawa kemaslahatan bagi orang banyak (servant leadership).

Kepemimpinan dalam Perspektif Al-Qur’an

Dalam perspektif Islam, kepemimpinan bukan sekadar kedudukan, melainkan amanah. Al-Qur’an mengingatkan agar setiap amanah disampaikan kepada yang berhak dan setiap keputusan ditegakkan dengan adil (QS. An-Nisā’ [4]: 58). Amanah menjadi pondasi utama yang menjaga seorang pemimpin agar tidak menyalahgunakan kekuasaan. Sementara itu, keadilan menjadi ukuran keberhasilan kepemimpinan karena keputusan yang adil akan melahirkan kepercayaan masyarakat.

Mimpi menjadi pemimpin seharusnya tidak dimulai ketika seseorang memperoleh jabatan, tetapi jauh sebelumnya, yaitu ketika ia belajar memimpin dirinya sendiri. Disiplin terhadap waktu, jujur dalam setiap tindakan, bertanggung jawab terhadap tugas, menghargai pendapat orang lain, dan berani mengakui kesalahan merupakan latihan kepemimpinan yang sesungguhnya. Kebiasaan-kebiasaan kecil tersebut akan membentuk karakter yang kuat ketika suatu saat amanah yang lebih besar diberikan.

Di sinilah peran keluarga, sekolah, dan perguruan tinggi menjadi sangat penting. Pendidikan tidak hanya bertujuan mencetak lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga membentuk pribadi yang berintegritas. Mahasiswa, misalnya, tidak hanya dipersiapkan menjadi sarjana, tetapi juga calon pemimpin yang mampu membawa perubahan positif di tengah masyarakat. Organisasi kemahasiswaan, kegiatan sosial, dan budaya akademik merupakan ruang yang efektif untuk melatih kepemimpinan yang bertanggung jawab.

Pada akhirnya, bangsa ini tidak hanya membutuhkan pemimpin yang cerdas, tetapi juga pemimpin yang jujur, adil, dan mampu menjaga amanah. Oleh karena itu, mimpi menjadi pemimpin hendaknya tidak berhenti sebagai cita-cita, melainkan diwujudkan melalui usaha yang sungguh-sungguh dalam membentuk karakter. Sebab, pemimpin sejati bukanlah mereka yang paling tinggi kedudukannya, melainkan mereka yang paling besar manfaatnya bagi sesama. Urgensi pembentukan karakter kepemimpinan juga diperkuat oleh berbagai hasil penelitian di bidang pendidikan. Berbagai kajian menunjukkan bahwa kepemimpinan yang efektif tidak hanya ditentukan oleh kemampuan manajerial, tetapi juga oleh karakter seperti integritas, tanggung jawab, kemampuan bekerja sama, dan kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai tersebut tidak tumbuh secara instan, melainkan melalui proses pendidikan yang berkelanjutan di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dengan demikian, pembentukan karakter perlu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pendidikan.

Dalam perspektif Islam, pendidikan karakter memiliki landasan yang kuat. Al-Qur’an menggambarkan manusia sebagai khalifah (QS.Al-Baqarah: 30) di bumi yang memikul tanggung jawab untuk memakmurkan kehidupan serta menjaga nilai-nilai keadilan dan amanah. Karena itu, kepemimpinan bukanlah hak istimewa yang bertujuan memperoleh kehormatan, melainkan amanah yang harus dipertanggung jawabkan. Semakin besar amanah yang diterima seseorang, semakin besar pula tanggung jawab moral yang harus dipikulnya. Mimpi menjadi pemimpin seyogianya dimaknai sebagai motivasi untuk terus memperbaiki diri. Seorang mahasiswa yang disiplin dalam belajar, jujur dalam mengerjakan tugas, bertanggung jawab terhadap kewajibannya, dan mampu bekerja sama dengan orang lain sesungguhnya sedang menyiapkan dirinya menjadi pemimpin masa depan. Kepemimpinan bukanlah sesuatu yang lahir ketika seseorang memperoleh jabatan, tetapi tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan baik yang dilakukan secara konsisten. Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam melahirkan generasi pemimpin yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas moral. Kegiatan organisasi kemahasiswaan, pengabdian kepada masyarakat, diskusi ilmiah, dan budaya akademik merupakan sarana yang efektif untuk menumbuhkan jiwa kepemimpinan. Ketika ilmu pengetahuan dipadukan dengan akhlak yang baik, maka akan lahir pemimpin yang mampu menghadirkan perubahan positif bagi masyarakat.

Mengubah potensi “mimpi” generasi muda menjadi realitas “pemimpin” yang berkarakter memerlukan kompas moral yang kokoh di tengah arus disrupsi digital. Al-Qur’an menawarkan paradigma kepemimpinan profetik melalui sifat siddiq (integritas), amanah (akuntabilitas), tabligh (komunikasi transformatif), dan fathonah (kecerdasan visioner) sebagai fondasi utama rekonstruksi karakter pemuda.

Penulis: Haryani (Mahasiswa IAT Semester IV Institut As-Syifa)

Loading

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

nineteen + 11 =