Belakangan ini kita sering banget disuguhi berita yang bikin miris soal perilaku anak muda. Mulai dari tawuran pelajar, perundungan di sekolah, sampai kasus-kasus kriminal yang pelakunya justru anak-anak usia sekolah. Rasanya aneh, di zaman yang katanya serba maju dan akses pendidikan makin gampang dijangkau, kok justru krisis akhlak di kalangan generasi muda terasa makin parah. Ini bukan cuma masalah satu dua anak nakal, tapi sudah jadi fenomena yang perlu kita renungkan bersama, terutama dari sisi pendidikan. 

Kalau dipikir-pikir, selama ini pendidikan kita cenderung fokus banget ke nilai akademik. Anak dituntut ranking bagus, nilai ujian tinggi, lolos masuk sekolah favorit, sementara pembentukan karakter dan akhlak sering cuma jadi pelengkap di mata pelajaran agama atau PPKn. Padahal kalau kita balik ke ajaran Islam, menuntut ilmu itu bukan cuma soal pintar, tapi soal jadi manusia yang lebih baik. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri diutus bukan untuk mengajarkan matematika atau sains, melainkan untuk menyempurnakan akhlak manusia. Jadi kalau pendidikan cuma mengejar kepintaran tanpa membentuk akhlak, ya wajar saja hasilnya timpang. 

Saya pribadi ngerasa fenomena ini juga nggak lepas dari lingkungan sekitar anak muda sekarang. Media sosial, pergaulan, sampai tontonan sehari-hari banyak yang isinya kekerasan, kata-kata kasar, atau gaya hidup yang jauh dari nilai agama. Anak-anak dan remaja menyerap semua itu tanpa filter yang cukup, apalagi kalau di rumah juga nggak ada pendampingan yang serius dari orang tua. Sekolah pun kadang cuma jadi tempat transfer pelajaran, bukan tempat menanamkan nilai. Akhirnya ada kekosongan besar antara apa yang diajarkan di kelas dengan apa yang benar-benar dibutuhkan anak untuk jadi pribadi yang berakhlak. 

Makanya, menurut saya pendidikan akhlak itu seharusnya nggak lagi jadi pelengkap, tapi jadi fondasi utama dalam proses belajar mengajar. Bukan berarti pelajaran umum jadi nggak penting, tapi porsinya harus seimbang. Guru agama misalnya, bisa lebih banyak mengajak diskusi soal masalah nyata yang dihadapi anak muda sehari-hari, bukan cuma menghafal dalil atau rukun-rukun ibadah. Begitu juga guru mata pelajaran lain, sebenarnya bisa ikut menyisipkan nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, dan empati dalam cara mereka mengajar, nggak harus selalu lewat ceramah panjang. 

Peran keluarga juga jadi kunci yang nggak bisa dianggap remeh. Sepintar apa pun kurikulum sekolah dirancang, kalau di rumah anak nggak dapat contoh dan pendampingan yang baik, hasilnya ya percuma. Orang tua perlu lebih dekat sama anak, mau dengerin cerita mereka, dan ikut mengarahkan tanpa harus terlalu keras atau otoriter. Kadang anak nakal bukan karena dia jahat, tapi karena dia nggak punya ruang aman buat cerita dan minta bimbingan, sehingga dia cari validasi ke tempat lain yang belum tentu baik buat perkembangannya. 

Lingkungan pesantren atau madrasah sebenarnya bisa jadi contoh menarik soal bagaimana pendidikan akhlak dan ilmu pengetahuan bisa berjalan beriringan. Di banyak pesantren, santri nggak cuma diajarin ilmu agama secara teori, tapi juga dibiasakan hidup disiplin, mandiri, dan saling menghormati lewat kehidupan sehari-hari bareng teman-temannya. Ada budaya saling mengingatkan, ada rasa malu kalau berbuat salah, dan ada figur kiai atau ustadz yang jadi teladan nyata, bukan cuma pengajar di depan kelas. Nilai-nilai itu yang kadang hilang di sekolah umum karena fokusnya cuma ke pencapaian akademik semata. Bukan berarti semua sekolah harus jadi pesantren, tapi semangat menyatukan ilmu dan akhlak ini yang perlu diadopsi lebih luas, termasuk di kampus dan lingkungan pendidikan tinggi. 

Tantangan lain yang nggak kalah penting adalah bagaimana pendidikan akhlak ini dikemas supaya nggak terkesan kaku atau menggurui buat anak muda sekarang. Generasi sekarang lebih gampang menerima nilai lewat cerita, diskusi, atau kegiatan langsung dibanding cuma dengerin nasihat satu arah. Makanya metode pembelajaran yang lebih interaktif, kolaboratif, dan dekat dengan keseharian mereka jadi penting supaya nilai-nilai akhlak itu benar-benar nempel, bukan cuma jadi hafalan yang lewat begitu saja setelah ujian selesai. 

Pada akhirnya, krisis moral yang kita lihat sekarang ini sebenarnya jadi alarm buat kita semua, bukan cuma tanggung jawab sekolah atau guru semata. Keluarga, masyarakat, dan lembaga pendidikan perlu sama-sama bergerak membangun ekosistem yang mendukung tumbuhnya akhlak yang baik pada generasi muda. Kita nggak bisa cuma nyalah-nyalahin anak muda sekarang tanpa mau introspeksi apakah sistem pendidikan dan lingkungan yang kita bangun sudah cukup mendukung mereka tumbuh jadi pribadi yang baik. Kalau ilmu dan akhlak bisa berjalan seimbang sejak dini, saya percaya generasi yang lahir nantinya bukan cuma pintar secara akademik, tapi juga punya kedewasaan sikap dan kedekatan dengan nilai-nilai agama yang bisa jadi bekal menjalani hidup, baik di dunia maupun kelak di akhirat. 

Oleh: Rizaldi Irsal Ghifari (Mahasiswa IAT Semester IV Institut As-Syifa)

Loading

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

15 − eleven =