Dunia hari ini bergerak dengan kecepatan yang tidak pernah dibayangkan generasi sebelumnya. Satu ketukan jari bisa mengirim pesan ke ujung dunia dalam hitungan detik, satu unggahan bisa dilihat jutaan orang sebelum penulisnya sempat menyesal. Namun di balik kemudahan itu, ada persoalan yang justru semakin serius: krisis karakter. Perundungan siber, penyebaran hoaks, ujaran kebencian, kecanduan gawai, hingga hilangnya kesabaran dalam berdiskusi menjadi pemandangan yang hampir setiap hari kita jumpai di lini masa. Menariknya, jauh sebelum istilah “era digital” dikenal, Al-Qur’an telah meletakkan kerangka nilai yang relevan untuk menjawab persoalan ini, salah satunya melalui surah pendek namun padat makna, QS. Al-‘Asr.

Surah yang hanya terdiri dari tiga ayat ini memuat empat pilar penting: kesadaran akan waktu, keimanan, amal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Allah bersumpah demi waktu (demi masa), menegaskan bahwa manusia sesungguhnya berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman, mengerjakan kebajikan, serta saling berpesan dalam kebenaran dan saling berpesan dalam kesabaran. Empat unsur inilah yang, jika direnungkan, sesungguhnya adalah cetak biru pendidikan karakter yang sangat dibutuhkan generasi digital saat ini.

Pertama, kesadaran akan waktu. Sumpah Allah atas masa mengisyaratkan betapa berharganya waktu dalam kehidupan manusia. Ironisnya, era digital justru menjadi ladang subur bagi pemborosan waktu. Riset dari berbagai lembaga menunjukkan rata-rata pengguna gawai menghabiskan berjam-jam setiap hari untuk menggulir media sosial tanpa tujuan yang jelas. Fenomena ini dikenal dengan istilah “doomscrolling”, sebuah kebiasaan yang menggerus produktivitas dan bahkan kesehatan mental. Pendidikan karakter yang berlandaskan kesadaran waktu semestinya menumbuhkan kemampuan mengelola diri, membedakan mana kebutuhan dan mana sekadar hiburan yang menyita waktu tanpa nilai tambah.

Kedua, keimanan sebagai fondasi moral. Di tengah derasnya arus informasi, generasi muda dihadapkan pada berbagai pandangan hidup yang saling bertentangan, mulai dari hedonisme digital hingga nihilisme yang dibalut estetika media sosial. Iman, dalam konteks ini, bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan kompas nilai yang membantu seseorang menyaring informasi dan menentukan sikap. Tanpa fondasi ini, seseorang mudah terombang-ambing mengikuti tren, termasuk tren yang merusak, karena tidak memiliki pijakan nilai yang kokoh.

Ketiga, amal saleh sebagai wujud nyata karakter. Iman tanpa tindakan hanyalah slogan kosong. Di ruang digital, amal saleh bisa diwujudkan dalam bentuk sederhana: berbagi informasi yang bermanfaat dan telah diverifikasi kebenarannya, memberi komentar yang membangun, atau bahkan sekadar tidak ikut menyebarkan konten yang merugikan orang lain. Pendidikan karakter perlu menekankan bahwa jejak digital adalah bagian dari catatan amal, sehingga setiap unggahan dan komentar semestinya dipertimbangkan dengan matang, bukan sekadar reaksi impulsif.

Keempat, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Inilah dua unsur yang paling relevan menjawab fenomena hoaks dan perundungan siber. Saling menasihati dalam kebenaran mengajarkan pentingnya literasi digital, yaitu kemampuan memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya, serta keberanian meluruskan kekeliruan dengan cara yang santun. Sementara saling menasihati dalam kesabaran mengajarkan pengendalian emosi ketika berhadapan dengan perbedaan pendapat di ruang publik digital, sesuatu yang sangat langka ditemukan pada perdebatan di kolom komentar akhir-akhir ini. Kombinasi keduanya membentuk apa yang sering disebut sebagai etika bermedia sosial yang sehat.

Urgensi pendidikan karakter berbasis nilai-nilai QS. Al-‘Asr ini semakin terasa ketika kita menyadari bahwa teknologi bersifat netral, ia hanya alat. Yang menentukan dampaknya adalah karakter penggunanya. Sekolah, kampus, dan keluarga sebagai institusi pendidikan tidak bisa lagi hanya mengajarkan literasi teknis seperti cara mengoperasikan aplikasi, tetapi juga harus menanamkan literasi nilai yang memandu bagaimana teknologi itu digunakan secara bertanggung jawab. Kurikulum pendidikan karakter yang mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dengan tantangan kontemporer, seperti yang tercermin dalam QS. Al-‘Asr, dapat menjadi salah satu pendekatan yang efektif karena bersumber dari nilai yang telah teruji lintas zaman, bukan sekadar tren pedagogis sesaat.

Penerapan nilai-nilai tersebut tentu memerlukan langkah konkret, bukan sekadar wacana. Sekolah dan kampus dapat mengintegrasikan pembahasan etika digital ke dalam mata pelajaran atau mata kuliah agama dan pendidikan kewarganegaraan, misalnya dengan mendiskusikan kasus-kasus nyata perundungan siber atau hoaks yang viral, kemudian mengaitkannya dengan nilai kejujuran dan kesabaran. Keluarga, sebagai lingkungan pendidikan pertama, perlu membiasakan diskusi terbuka mengenai konten yang dikonsumsi anak di media sosial, bukan sekadar melarang tanpa penjelasan. Sementara itu, tokoh agama dan pendidik dapat memanfaatkan platform digital itu sendiri untuk menyebarkan konten dakwah dan edukasi yang mengedepankan nilai kebenaran dan kesantunan, sehingga ruang digital tidak hanya diisi oleh konten yang memecah belah, tetapi juga oleh suara-suara yang menyejukkan dan mencerahkan.

Pada akhirnya, QS. Al-‘Asr mengingatkan bahwa kerugian sejati bukanlah soal seberapa banyak data yang dikonsumsi atau seberapa cepat koneksi internet yang dimiliki, melainkan soal bagaimana waktu, keimanan, amal, dan interaksi sosial dikelola dengan penuh kesadaran. Generasi digital hari ini membutuhkan lebih dari sekadar kecakapan teknis; mereka membutuhkan karakter yang kokoh agar tidak hanyut dalam derasnya arus informasi. Dan jawaban atas kebutuhan itu, ternyata, telah tersedia sejak lima belas abad yang lalu, dalam tiga ayat singkat yang terus relevan sepanjang masa.

Daftar Pustaka

Harvard Health Publishing. (2023). Doomscrolling dangers. Harvard Medical School. Diakses dari https://www.health.harvard.edu/mind-and-mood/doomscrolling-dangers

Katsir, I. (t.t.). Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Juz 30 (Tafsir Surah Al-‘Ashr).

NU Online. (2024). Tafsir Surat Al-‘Ashr: Pentingnya Manajemen Waktu dalam Islam. Diakses dari https://islam.nu.or.id/tafsir/tafsir-surat-al-ashr-pentingnya-manajemen-waktu-dalam-islam-jpIZ8

Shihab, M. Q. (2002). Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an (Vol. 15). Jakarta: Lentera Hati.

Oleh: Laela Nur Salamah (Mahasiswa IAT Semester IV Institut As-Syifa)

Loading

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

12 + thirteen =