Pendidikan ialah pilar utama dalam mencerdaskan kehidupan bangsa guna membangun serta memperbaiki kualitas anak bangsa. Seiring kemajuan sistem pendidikan, terdapat peran besar para guru, baik honorer (GTT) maupun PNS, yang menjadi tiang penting dalam proses pembelajaran di sekolah maupun lembaga pendidikan lainnya, baik negeri maupun swasta. Guru honorer (GTT) adalah guru tidak tetap yang masa aktifnya ditentukan sesuai kebutuhan sekolah atau lembaga. Bahkan guru honorer sering kali menjadi penopang utama keberlangsungan operasional sekolah. Namun, dengan dedikasi tinggi tersebut, realita gaji yang diterima sering kali tidak sesuai dengan kebutuhan sehari-hari. Isu kesenjangan antara gaji dan kebutuhan guru honorer ini masih menjadi perbincangan hangat di kalangan guru baru. Sebagai saudara dari beberapa pengajar, saya melihat perlunya refleksi mendalam mengenai posisi guru honorer khususnya swasta setelah melakukan wawancara singkat terkait kebutuhan dan gaji yang mereka Terima, apa sudah cukup apa masih kurang.

Pengalaman seorang  pengabdi selama empat tahun di jenjang Sekolah Dasar (SD) memberikan pandangan tersendiri mengenai profesi ini. “Mengatur anak-anak SD butuh kesabaran dan energi yang luar biasa,” ungkap narasumber pertama. Terkait gaji, beliau mengungkapkan bahwa penghasilannya sudah sesuai UMR dan diberikan setiap bulan. Tantangan pada jenjang ini bukan hanya dalam hal pengajaran, melainkan juga mengatur kegiatan sekolah bagi anak didik yang memerlukan perhatian lebih.Berbeda dengan narasumber kedua yang mengabdi selama satu tahun di jenjang Madrasah Aliyah (MA)swasta. Meskipun secara sistem honor diberikan per bulan, realitanya honor tersebut sering kali baru diterima beberapa bulan sekali dan dihitung berdasarkan jam mengajar. Tantangan yang beliau alami di jenjang ini adalah menghadapi remaja yang mulai kritis, bahkan berisiko bolos sekolah.

Terkait pemenuhan kebutuhan hidup, jawaban narasumber menunjukkan perbedaan yang kontras. Narasumber pertama merasa cukup, “Alhamdulillah cukup, karena makan sudah ditanggung yayasan.” Sebaliknya, narasumber kedua merasa masih kurang, “Tentu masih kurang, apalagi saya sudah berkeluarga dengan dua anak. Belum lagi kebutuhan dapur dan jajan anak.” Bagi sebagian guru, pendapatan yang ada disyukuri sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan dasar. Namun, beban biaya pendidikan anak dan operasional rumah tangga menjadi tantangan nyata yang mendorong banyak guru honorer mencari pekerjaan tambahan demi mempertahankan kesejahteraan keluarga.

Seorang guru seharusnya memiliki ketenangan pikiran agar bisa fokus mencurahkan ilmunya. Besaran honor yang disesuaikan dengan Upah Minimum Regional (UMR) setempat adalah standar kelayakan yang memberikan rasa aman secara finansial. UMR lebih dari sekadar uang pengganti bensin atau makan; honor yang layak adalah bentuk apresiasi atas tenaga dan pikiran yang dicurahkan. Faktanya, di daerah pedesaan, gaji yang diterima guru honorer masih jauh dari kata layak karena hanya dihitung per jam mengajar tanpa tunjangan tambahan. Tanpa keseimbangan antara kewajiban dan hak, dikhawatirkan kualitas pengajaran akan terganggu oleh beban pikiran ekonomi rumah tangga.

Kami sangat berharap pemerintah dan pihak sekolah lebih memperhatikan kesejahteraan guru honorer, baik di sekolah negeri maupun swasta. Para guru memiliki tujuan mulia untuk mencerdaskan anak bangsa. Jika kebijakan yang disepakati justru diskriminatif, hal ini akan menghambat motivasi dan semangat pengabdian. Profesi guru memang dipandang mulia, namun jika masalah gaji terus disepelekan, muncul kekhawatiran dari guru generasi baru: “Gaji segini, mending jadi buruh pabrik atau berjualan saja.” Jika ini terjadi, kita akan kekurangan tenaga didik di masa depan. Siapa yang akan mencerdaskan anak bangsa jika jasanya disepelekan? Maka, diperlukan pengaturan gaji minimum agar guru tidak menerima upah jauh di bawah kata layak.

Kesejahteraan adalah pintu seseorang untuk membuka dan mengambil peluang baru. Saya berharap pemerintah dapat menyeimbangkan perhatian kepada guru negeri maupun swasta. Guru honorer layak mendapatkan perhatian yang lebih baik agar gaji mereka tidak jauh di bawah standar minimum pemerintah. Jika guru sejahtera, mereka pun mampu mengajar dengan tenang, kreatif, dan inovatif tanpa terganggu fokusnya. Semoga ke depannya, profesi guru honorer, khususnya swasta, menjadi pekerjaan sekaligus pengabdian mulia yang dihormati, diakui, dan dijamin kesejahteraannya oleh negara serta lembaga pendidikan terkait. Semoga dedikasi yang diberikan guru dan imbalan yang didapatkan menjadi seimbang dan bermanfaat.

Penulis: Siti Munjiyatun (Mahasiswa IAT Semester IV Institut As-Syifa)

Loading

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

5 + 11 =