Subang, 7 Agustus 2026 — Dosen-Dosen Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Institut Agama Islam As-Syifa melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di SD Qur’an Al-Bayan, Cijambe, Kabupaten Subang, Jumat (7/8/2026). Kegiatan tersebut berfokus pada pendampingan pengelolaan program tahfiz Al-Qur’an melalui pendekatan Spaced and Massed Learning.
Mengusung tema “Pendampingan Manajemen Program Tahfiz Al-Qur’an Berbasis Spaced and Massed Learning di SD Qur’an Al-Bayan, Cijambe, Subang”, kegiatan ini menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung penguatan tata kelola pendidikan Al-Qur’an di tingkat sekolah dasar.
Tim dosen pengabdi terdiri atas Rizal Anshorudin, M.Pd., Muhammad Irfan, S.AP., M.Pd., Nova Ismawati, M.Pd., dan Dr. Gozali, Lc., M.Pd. Kegiatan diikuti oleh 25 guru SD Qur’an Al-Bayan, yang terdiri atas guru Pendidikan Agama Islam (PAI), guru Al-Qur’an/tahfiz, serta unsur manajemen sekolah.
Pendampingan ini berangkat dari kebutuhan sekolah untuk memperkuat pengelolaan program tahfiz agar tidak semata-mata berorientasi pada penambahan jumlah hafalan, tetapi juga memperhatikan kualitas, ketahanan, dan keberlanjutan hafalan siswa.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut adalah perlunya sistem muraja’ah yang lebih terstruktur, pemantauan perkembangan hafalan yang lebih sistematis, serta pengelolaan pembelajaran yang mampu mempertimbangkan proses penguatan hafalan dalam jangka waktu yang lebih panjang.
Dalam kegiatan pendampingan, tim dosen memberikan penguatan kepada para guru mengenai konsep Spaced Learning dan Massed Learning serta kemungkinan penerapannya dalam pengelolaan pembelajaran tahfiz Al-Qur’an.
Spaced Learning menekankan proses pengulangan materi dengan jeda atau interval waktu tertentu. Dalam konteks tahfiz, pendekatan ini dapat digunakan untuk membantu guru mengatur pengulangan hafalan secara berkala sehingga proses muraja’ah tidak hanya dilakukan menjelang evaluasi.
Sementara itu, Massed Learning menempatkan pengulangan secara lebih intensif dalam satu sesi atau rentang waktu yang berdekatan. Pendekatan tersebut dapat dimanfaatkan, antara lain, ketika siswa sedang membangun penguasaan awal terhadap hafalan baru.

Kedua pendekatan tersebut kemudian didiskusikan dalam konteks pengelolaan ziyadah, yaitu proses penambahan hafalan baru, dan muraja’ah, yaitu pengulangan hafalan yang telah diperoleh. Dengan demikian, guru tidak hanya mempertimbangkan target penambahan hafalan, tetapi juga bagaimana hafalan yang telah dicapai dapat terus dipelihara dan dipantau.
Pendampingan diarahkan agar sekolah dapat membangun pola pengelolaan program yang lebih terstruktur dan sesuai dengan karakteristik peserta didik serta kondisi nyata di lingkungan sekolah.
Kegiatan PkM menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) dan Asset Based Community Development (ABCD).
Pendekatan PAR menempatkan pihak sekolah sebagai mitra aktif dalam mengidentifikasi persoalan, menyusun alternatif strategi, melakukan tindakan, serta merefleksikan hasil pelaksanaan. Sementara itu, pendekatan ABCD digunakan untuk mengidentifikasi dan mengoptimalkan aset yang telah dimiliki oleh sekolah sebagai modal pengembangan program.
Dalam konteks SD Qur’an Al-Bayan, sejumlah potensi yang menjadi bagian dari aset pengembangan program tahfiz antara lain keberadaan guru tahfiz yang aktif, budaya Qur’ani sekolah, dukungan orang tua, lingkungan sekolah yang religius, target hafalan yang telah ditetapkan, serta antusiasme siswa dalam mengikuti program tahfiz.
Dengan pendekatan tersebut, pendampingan tidak ditempatkan sebagai proses pemberian materi secara satu arah. Sebaliknya, guru dan unsur manajemen sekolah dilibatkan dalam mendiskusikan persoalan dan merumuskan strategi yang lebih relevan dengan kebutuhan lembaga.
Salah satu fokus penting kegiatan adalah penguatan sistem muraja’ah dan monitoring perkembangan hafalan siswa.
Dalam proses pendampingan, tim dosen membantu mengarahkan penyusunan jadwal muraja’ah, pengembangan instrumen monitoring hafalan, simulasi penerapan strategi pembelajaran, serta evaluasi dan refleksi bersama pihak sekolah.
Penguatan sistem tersebut diharapkan dapat membantu guru memperoleh gambaran perkembangan hafalan siswa secara lebih sistematis. Data dan catatan perkembangan tersebut juga dapat menjadi dasar bagi guru dalam menentukan strategi pendampingan yang lebih sesuai dengan kondisi dan kemampuan masing-masing siswa.
Ketua tim perwakilan dosen pengabdi, Rizal Anshorudin, M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan PkM tersebut diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan pendampingan, tetapi dapat menjadi awal bagi sekolah untuk membangun sistem pengelolaan program tahfiz yang dapat diterapkan secara konsisten.
“Kami berharap pendampingan ini tidak berhenti pada kegiatan hari ini, tetapi dapat menjadi langkah awal bagi SD Qur’an Al-Bayan untuk membangun sistem manajemen program tahfiz yang lebih terstruktur. Guru memiliki peran penting bukan hanya dalam membimbing siswa menambah hafalan, tetapi juga memastikan proses muraja’ah, monitoring, dan evaluasi berjalan secara konsisten,” ujar Rizal Anshorudin.
Kolaborasi dengan SD Qur’an Al-Bayan diharapkan dapat terus dikembangkan melalui pendampingan dan evaluasi secara berkala. Dengan demikian, hubungan antara perguruan tinggi dan sekolah tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi berkembang menjadi kemitraan yang saling mendukung dalam peningkatan mutu pengelolaan pendidikan.
Melalui kegiatan ini, tim dosen MPI Institut Agama Islam As-Syifa berharap penguatan manajemen program tahfiz dapat memberikan kontribusi terhadap terciptanya sistem pembelajaran yang lebih terencana, pola muraja’ah yang lebih terstruktur, monitoring perkembangan hafalan yang lebih sistematis, serta budaya Qur’ani yang terus tumbuh di lingkungan sekolah.
![]()







