
Di era modern yang bergerak semakin cepat dan penuh persaingan, banyak orang tua bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga serta memberikan masa depan terbaik bagi anak-anaknya. Rumah yang nyaman, pendidikan berkualitas, fasilitas teknologi, hingga berbagai kesempatan pengembangan diri diusahakan agar anak dapat tumbuh dengan baik dan memiliki kehidupan yang lebih baik.
Namun, di balik berbagai kemudahan dan pemenuhan kebutuhan materi tersebut, muncul sebuah persoalan yang tidak boleh diabaikan, yaitu semakin berkurangnya waktu kebersamaan antara orang tua dan anak. Tuntutan pekerjaan, kesibukan ekonomi, dan gaya hidup modern sering kali membuat peran orang tua dalam mendidik, mengawasi, dan membentuk karakter anak perlahan mengalami pergeseran.
Tidak sedikit orang tua yang akhirnya menyerahkan sebagian besar tanggung jawab pendidikan kepada sekolah, guru agama, atau lingkungan sekitar. Padahal, pendidikan sejati seorang anak tidak hanya berbicara tentang kecerdasan akademik, tetapi juga tentang iman, akhlak, karakter, dan nilai kehidupan. Semua itu pertama kali tumbuh dari lingkungan keluarga, terutama melalui keteladanan dan bimbingan orang tua.
Pendidikan karakter dan agama yang dahulu banyak ditanamkan melalui interaksi sehari-hari dalam keluarga, kini sering kali digantikan oleh peran lembaga pendidikan dan teknologi. Di luar rumah, anak lebih banyak berhadapan dengan internet, media sosial, dan lingkungan pergaulan yang membawa berbagai macam pengaruh. Jika keluarga tidak menjadi tempat utama dalam pembentukan nilai, maka anak akan mencari rujukan lain yang belum tentu sesuai dengan ajaran agama dan nilai kebaikan.
Fenomena yang sering terjadi adalah orang tua tanpa sadar mengganti kehadiran dengan pemberian fasilitas. Anak diberikan smart phone agar lebih tenang, diikutkan berbagai kursus agar memiliki banyak kemampuan, atau dipenuhi kebutuhan materinya sebagai bentuk kasih sayang. Banyak orang tua rela bekerja lebih keras demi memberikan kendaraan, perangkat teknologi, maupun pendidikan terbaik, tetapi terkadang kesulitan meluangkan waktu untuk sekadar mendengarkan cerita anak, membaca Al-Qur’an bersama, atau memberikan nasihat sederhana sebelum tidur.
Padahal, dalam perspektif Islam, orang tua memiliki kedudukan yang sangat penting sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak. Hal ini tergambar jelas dalam kisah Luqman yang memberikan nasihat kepada anaknya sebagaimana disebutkan dalam QS. Luqman. Dalam kisahnya luqman tidak hanya mengajarkan tentang kehidupan dunia, tetapi terlebih dahulu membangun fondasi keimanan sebagai dasar utama dalam menjalani kehidupan.
Nasihat pertama yang diberikan luqman adalah tentang tauhid, yaitu larangan mempersekutukan Allah. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan anak harus dimulai dari penguatan akidah. Sebelum anak dibekali berbagai ilmu dan keterampilan, ia perlu memahami siapa Tuhannya, tujuan hidupnya, dan kesadaran bahwa setiap perbuatan manusia selalu berada dalam pengawasan Allah, sekecil apa pun perbuatan tersebut.
Selain menanamkan tauhid dan keimanan, luqman juga mengajarkan pentingnya ibadah, kepedulian terhadap sesama, serta akhlak mulia. Perintah mendirikan salat, mengajak kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan bersabar dalam menghadapi ujian menjadi bagian penting dari pendidikan anak. Luqman juga mengajarkan agar anak menjauhi kesombongan, menjaga cara berbicara, dan membangun sikap rendah hati dalam kehidupan.
Hal yang menarik dari metode pendidikan luqman adalah cara penyampaiannya. Ia menggunakan panggilan penuh kasih sayang, yaitu “Ya Bunayya” (wahai anakku tercinta). Ungkapan ini menunjukkan bahwa pendidikan yang efektif tidak hanya membutuhkan ilmu, tetapi juga membutuhkan kedekatan emosional, kelembutan, dan komunikasi yang penuh kasih antara orang tua dan anak.
Pesan Allah yang tertuang dalam QS. Luqman menjadi sangat relevan dengan kondisi keluarga saat ini. Orang tua tidak cukup hanya menjadi penyedia kebutuhan fisik, tetapi juga harus hadir sebagai pembimbing spiritual dan moral. Anak membutuhkan figur tauladan yang dapat dicontoh secara lungsung, bukan hanya nasihat yang didengar. Sebab, keteladanan orang tua sering kali lebih kuat pengaruhnya daripada sekadar perkataan.
Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan orang tua dalam menghadirkan kembali perannya sebagai pendidik utama. Orang tua dapat menyediakan waktu khusus bersama anak setiap hari, membiasakan ibadah bersama seperti salat berjamaah dan membaca Al-Qur’an, serta membangun budaya berdialog agar anak merasa didengar dan dihargai.
Orang tua juga harus menjadi teladan sebelum menjadi penasihat apalagi hakim. Nilai kejujuran, kesabaran, tanggung jawab, dan akhlak mulia akan lebih mudah diterima anak ketika mereka melihat contoh nyata dari kedua orang tuanya sendiri. Dalam menghadapi perkembangan teknologi, pengawasan juga perlu dilakukan dengan bijak agar anak mampu menggunakan media digital secara positif tanpa kehilangan nilai-nilai agama.
Keberhasilan pendidikan anak tidak hanya diukur dari prestasi akademik, pekerjaan yang diraih, atau banyaknya fasilitas yang diberikan kepada Anak. Kesuksesan sejati adalah ketika seorang anak memiliki ilmu yang bermanfaat, iman yang kuat, serta akhlak yang mulia. Sebab anak bukan hanya membutuhkan bekal untuk meraih kesuksesan di dunia, tetapi juga membutuhkan bimbingan agar mampu menjalani kehidupan yang diridhai Allah dan menjadi ladang kebaikan yang terus mengalir hingga akhirat bagi orang tuanya.
Disusun Oleh : Agus Wildan (Mahasiswa IAT Semester IV Institut As-Syifa)
![]()






