Kemajuan teknologi telah membawa perubahan di berbagai aspek kehidupan, termasuk cara kaum muda memandang penggunaan rokok. Meskipun dulu rokok identik terutama dengan rokok konvensional, kini ada rokok elektronik, atau vape, yang menawarkan desain lebih modern, beragam rasa, dan penampilan yang lebih menarik. Munculnya vape tidak hanya mengubah cara orang mengonsumsi produk tembakau, tetapi juga memengaruhi makna yang melekat pada aktivitas ini. Bagi sebagian kaum muda, rokok elektronik tidak lagi dipandang semata-mata sebagai produk yang mengandung nikotin. sebaliknya, rokok elektronik telah menjadi bagian dari identitas mereka dan, pada saat yang sama, simbol gaya hidup mereka.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa penggunaan vape di kalangan remaja tidak hanya dipengaruhi oleh kebutuhan pribadi, tetapi juga oleh faktor sosial. Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komjen Suyudi Ario Seto, menyatakan bahwa penggunaan rokok elektronik atau vape di Indonesia menunjukkan peningkatan yang signifikan. Ia juga mengungkapkan bahwa tingkat penggunaan tertinggi ditemukan pada kelompok remaja yang berusia 15–19 tahun.”Berdasarkan survei Global Adult Tobacco Survey (GATS) tahun 2021 yang dirilis Kementerian Kesehatan dan WHO, terjadi lonjakan prevalensi pengguna rokok elektrik di Indonesia hingga 10 kali lipat,” kata Suyudi, Rabu(18/2/2026). Data tersebut menunjukkan bahwa vape telah menjadi fenomena yang tidak dapat dipandang sebelah mata.
Konsep Ilusi Tampil Keren
Artikel ini mendefinisikan ilusi terlihat “keren” sebagai persepsi yang membuat seseorang meyakini bahwa vaping meningkatkan citra diri mereka dan membuat mereka tampak lebih modern, percaya diri, atau diterima oleh lingkaran sosial mereka. Namun, pada kenyataannya, keyakinan ini lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan daripada fakta-fakta objektif.
Konsep ini berkaitan dengan teori pembelajaran sosial (Social Learning Theory) yang dikemukakan oleh Albert Bandura. Menurut teori tersebut, manusia dapat mempelajari perilaku tertentu melalui pengamatan dan peniruan tindakan orang lain, terutama jika perilaku tersebut dinilai positif atau diterima secara sosial. Dalam konteks vaping, remaja yang melihat teman sebaya, tokoh publik, atau konten di media sosial yang menggambarkan vaping sebagai bagian dari gaya hidup, dapat terdorong untuk meniru perilaku tersebut.
Dengan demikian, pada sebagian remaja, penggunaan vape tidak semata-mata didorong oleh keinginan untuk mengonsumsi nikotin, tetapi juga oleh kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan dan penerimaan dalam lingkungan sosial.
Konsep ilusi tampil keren dapat dikenali melalui beberapa indikator.
Pertama, terdapat anggapan bahwa penggunaan vape dapat membuat seseorang tampak lebih dewasa, lebih modern, dan memiliki rasa percaya diri yang lebih tinggi.
Kedua, keputusan remaja untuk menggunakan vape cenderung lebih dipengaruhi oleh teman sebaya daripada pertimbangan mengenai dampaknya terhadap kesehatan. Banyak remaja memilih mencoba vape agar tidak merasa berbeda dari kelompoknya serta lebih mudah diterima dalam lingkungan pergaulan/tongkrongan.
Ketiga, terdapat kecenderungan di kalangan sebagian pengguna untuk menjadikan vape sebagai bagian dari identitas diri. Hal ini terlihat dari kebiasaan memilih perangkat vape berdasarkan desain, merek, atau warna tertentu yang dianggap mampu mencerminkan status sosial maupun citra diri.
Keempat, muncul keyakinan bahwa vape jauh lebih aman dibandingkan rokok konvensional sehingga pengguna merasa tidak perlu mengkhawatirkan dampaknya. Padahal, WHO menegaskan bahwa banyak produk vape tetap mengandung nikotin yang bersifat adiktif dan dapat membahayakan kesehatan, terutama pada anak-anak, remaja, serta dewasa muda yang perkembangan otaknya masih berlangsung. Paparan nikotin pada masa remaja berpotensi mengganggu proses perkembangan otak, termasuk kemampuan dalam berkonsentrasi dan belajar. Selain itu, penggunaan nikotin sejak usia dini dapat meningkatkan risiko terjadinya ketergantungan dalam jangka panjang serta mendorong penggunaan produk nikotin maupun tembakau lainnya di kemudian hari. Nikotin juga diketahui dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit kardiovaskular.
Pembuktian Fenomena
Fenomena meningkatnya penggunaan vape pada remaja tidak hanya terlihat dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga didukung oleh berbagai data penelitian. WHO Indonesia menyebutkan bahwa penggunaan produk tembakau dan rokok elektronik pada remaja masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa kelompok usia remaja merupakan sasaran yang rentan terhadap berbagai bentuk promosi maupun pengaruh lingkungan.
Selain itu, WHO juga mengingatkan bahwa industri rokok elektronik menggunakan berbagai strategi pemasaran, seperti pilihan rasa yang menarik, desain produk yang modern, hingga promosi melalui media digital dan influencer untuk menarik perhatian generasi muda. Strategi tersebut membuat vape tidak hanya dipandang sebagai produk, tetapi juga sebagai simbol gaya hidup.
Pada era media sosial, proses pembentukan citra diri terjadi dengan sangat cepat. Remaja menghabiskan banyak waktu untuk menyaksikan beragam konten yang menampilkan kehidupan orang lain. Ketika penggunaan vape terus-menerus ditampilkan sebagai bagian dari gaya hidup yang menarik, sebagian remaja mulai memandang perilaku tersebut sebagai sesuatu yang wajar. Kondisi ini kemudian memunculkan proses normalisasi, yaitu ketika perilaku yang sebenarnya memiliki risiko terhadap kesehatan dianggap sebagai hal yang lazim dan dapat diterima.
Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa paparan nikotin pada usia remaja dapat memengaruhi perkembangan otak yang masih berlangsung hingga awal usia dewasa. Risiko tersebut menunjukkan bahwa kesan “lebih aman” pada vape tidak berarti bebas dari dampak kesehatan.
Menurut penulis, persoalan utama bukan terletak pada bentuk produknya, melainkan pada cara masyarakat memaknainya. Vape menjadi masalah ketika dijadikan ukuran untuk memperoleh pengakuan sosial. Dalam kondisi seperti ini, keputusan remaja tidak lagi didasarkan pada pengetahuan mengenai manfaat dan risiko, tetapi pada keinginan untuk diterima oleh lingkungan.
Kondisi tersebut diperkuat oleh budaya media sosial yang sering kali lebih mengutamakan penampilan daripada substansi. Remaja yang sedang mencari jati diri menjadi lebih mudah menghubungkan penampilan luar dengan nilai dirinya. Akibatnya, benda yang digunakan dianggap mampu menentukan status sosial seseorang.
Padahal, ukuran seseorang tidak ditentukan oleh apakah ia menggunakan vape atau tidak. Kepercayaan diri yang sesungguhnya lahir dari karakter, kemampuan berpikir, prestasi, dan integritas. Remaja yang mampu menolak tekanan kelompok justru menunjukkan kematangan dalam mengambil keputusan.
Oleh karena itu, solusi terhadap fenomena ini tidak cukup hanya melalui pelarangan. Pendidikan mengenai literasi kesehatan dan literasi digital perlu diperkuat agar remaja mampu memahami bagaimana strategi pemasaran bekerja dan tidak mudah terpengaruh oleh citra yang dibangun di media sosial. Orang tua, sekolah, dan masyarakat juga perlu menciptakan lingkungan yang menghargai prestasi dan karakter lebih tinggi daripada simbol-simbol gaya hidup.
Fenomena penggunaan vape di kalangan remaja menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi tidak hanya berkaitan dengan kesehatan, tetapi juga dengan pembentukan identitas sosial. Ilusi tampil keren membuat sebagian remaja percaya bahwa vape dapat meningkatkan citra diri dan memperluas penerimaan dalam lingkungan pergaulan. Padahal, anggapan tersebut lebih banyak dibentuk oleh pengaruh media, teman sebaya, dan strategi pemasaran daripada kenyataan yang sebenarnya.
Melalui data WHO dan berbagai kajian mengenai perilaku remaja, dapat dipahami bahwa meningkatnya penggunaan vape merupakan persoalan yang memerlukan perhatian bersama. Oleh sebab itu, upaya pencegahan tidak cukup hanya melalui aturan, tetapi juga melalui pendidikan, keteladanan, dan penguatan kemampuan berpikir kritis. Pada akhirnya, menjadi keren bukan berarti mengikuti setiap tren yang berkembang, melainkan memiliki keberanian untuk memilih apa yang benar, menjaga kesehatan, dan membangun masa depan yang lebih baik.
Oleh: Silvia Jasmin (Mahasiswa IAT Semester IV Institut As-Syifa)
![]()







