Barangkali kita pernah menyaksikan orang berangkat ke warung yang jaraknya hanya puluhan meter mengendarai motor. Ada pula mereka yang menghabiskan waktunya berinteraksi menggunakan gawai. Pada kondisi lainnya, banyak yang berlama-lama duduk di depan laptop karena tuntutan pekerjaan, pendidikan atau terpaksa karena terjebak kemacetan. Begitulah gambaran masyarakat Indonesia yang hidup di era disrupsi. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menghadirkan berbagai kemudahan dan fasilitas, namun juga berpotensi meningkatkan budaya mager alias “malas gerak”, fenomena yang disadari atau tidak sudah terjadi saat ini. Hasil survei kesehatan yang dilakukan Kemenkes (2023) menunjukkan bahwa terdapat 37,4% masyarakat Indonesia yang kurang aktivitas fisik. Pertanyaan refleksinya adalah “Apakah kita termasuk di dalamnya?”

Bergerak bukan hanya karena tuntutan ekonomi, pekerjaan atau pendidikan saja, melainkan karena kita hidup. Bahkan kerapkali terjadi hal miris manakala orang terdorong bergerak saat ada perintah dokter dalam rangka rehabilitasi dari suatu penyakit. Padahal guru Biologi kita menyampaikan bahwa salah-satu ciri hidup adalah bergerak, karena bergerak adalah bagian dari fitrah manusia sebagai makhluk yang hidup. Kita bergerak karena hidup, bukan sekadar karena tuntutan hidup, harus melakukan ini ataupun itu.

Prinsip bahwa bergerak merupakan bagian dari fitrah manusia juga sejalan dengan ajaran Islam. Al-Qur’an memberikan isyarat bahwa manusia diperintahkan untuk berusaha, berjalan di muka bumi, dan memanfaatkan potensi yang Allah berikan secara aktif. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah SWT dalam Surat Al-Jumu’ah: 10 yang berbunyi:

فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَٱبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya: “Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.” 

Ayat ini menunjukkan bahwa ibadah bukanlah akhir dari aktivitas manusia; sebaliknya, itu adalah awal dari hidup yang penuh semangat. Setelah memperoleh kekuatan spiritual melalui salat, seorang Muslim diperintahkan untuk kembali aktif, berkeliling dunia, berusaha mencari karunia Allah, dan tetap mengingat-Nya. Sangat menarik bahwa ayat ini tidak hanya memerintahkan untuk bekerja, tetapi juga memerintahkan untuk mengingat-Nya saat bekerja. Oleh karena itu, Islam membangun keseimbangan antara spiritualitas dan produktivitas. Beribadah dengan khusyuk, kemudian bergerak, menghasilkan, dan memberikan kontribusi kepada kehidupan, semuanya sambil mempertahankan nilai-nilai Tuhan sebagai dasar dari setiap tindakan.

Bergerak merupakan akktivitas kebutuhan jasmani dan rohani manusia. Dengan aktif bergerak, selain bertujuan menjaga kesehatan fisik tentunya dapat membangun kesehatan mental, semangat, dan optimisme menjalani kehidupan. Sedangkan tubuh ini adalah amanah dari Yang Maha Kuasa untuk sepenuhnya dijaga bukan malah didiamkan atau malah dirusak. Cara menjaganya diserahkan secara otonom kepada masing-masing individu tersebut,. Sebagai contoh sederhana yang dapat kita lakukan yakni aktivitas fisik berjalan kaki, aktif dalam berbagai cabang olahraga, semangat bekerja, serta berkontribusi dalam membantu sesama.

Berbagai kemudahan yang dianugerahkan Allah SWT melalui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi jangan sampai melahirkan budaya malas gerak. Kita perlu memberikan batasan yang jelas antara istirahat yang diperlukan dengan kebiasaan bermalas-malasan. Istirahat adalah hak badan yang wajib dipenuhi, namun buakn berarti bermalas-malasan. Orang yang seringkali “dinina-bobokan” oleh media digital sehingga lupa dan mager, istilah zaman sekarang “PW” (posisi enak) sehingga produktivitasnya terganggu. Produktivitas bukan berarti terus bekerja dan bergerak tanpa henti, melainkan hidup yang seimbang antara bergerak bekerja maupun istirahat.

Lalu, bagaimana mengatasi kebiasaan malas bergerak? Beberapa langkah sederhana dapat dilakukan, diantaranya: 1) Memilih aktivitas fisik yang disenangi; 2) Memulai dari aktivitas yang mengandung 5M (mudah, murah, meriah, masal dan manfaat); 3) Berkumpul dengan komunitas atau orang-orang yang bergerak aktif; 4) Membuat jadwal “me time” atau fam-time”Buntuk olahraga; 5) Menetapkan target sasaran yang ingin dicapai; 6) Meningkatkan literasi fisik dengan banyak membaca karya ilmiah atau penyampaian materi dari padra ahli, dan lain sebagainya.

Ingatlah selalu bahwa karunia Allah bukan hanya gaji atau keuntungan ekonomi, namun juga termasuk ilmu pengetahuan, pengalaman, kesehatan, silaturahmi, pengabdian, dan kebermanfaatan. Ketika kita bergerak berarti membuka peluang untuk memperoleh berbagai bentuk karunia tersebut. Semakin aktif berikhtiar, semakin luas kesempatan berkembang. Jadikan aktivitas gerak sebagai bagian dari ibadah dan bentuk syukur atas kehidupan  Selama kehidupan masih dianugerahkan Allah, bergerak adalah cara kita mensyukuri nikmat hidup; sebab kita bergerak bukan sekadar untuk memenuhi tuntutan hidup, tetapi karena hidup itu sendiri adalah amanah yang harus dijalani dengan ikhtiar dan kebermanfaatan.

Rujukan:

  1. Kementerian Agama Republik Indonesia. Al-Qur’an Kemenag. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an. https://quran.kemenag.go.id
  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Dipublikasikan 28 Mei 2024. Diakses 6 Juli 2026. https://kemkes.go.id/id/survei-kesehatan-indonesia-ski-2023

Oleh: Dian Permana (Mahasiswa IAT Semester IV Institut As-Syifa)

Loading

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

two + thirteen =