Home Blog

Bergerak Karena Kita Hidup Bukan Sekadar Tuntutan Hidup (Refleksi Q.S. Al-Jumu’ah Ayat 10 di Tengah Budaya Mager)

0

Barangkali kita pernah menyaksikan orang berangkat ke warung yang jaraknya hanya puluhan meter mengendarai motor. Ada pula mereka yang menghabiskan waktunya berinteraksi menggunakan gawai. Pada kondisi lainnya, banyak yang berlama-lama duduk di depan laptop karena tuntutan pekerjaan, pendidikan atau terpaksa karena terjebak kemacetan. Begitulah gambaran masyarakat Indonesia yang hidup di era disrupsi. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menghadirkan berbagai kemudahan dan fasilitas, namun juga berpotensi meningkatkan budaya mager alias “malas gerak”, fenomena yang disadari atau tidak sudah terjadi saat ini. Hasil survei kesehatan yang dilakukan Kemenkes (2023) menunjukkan bahwa terdapat 37,4% masyarakat Indonesia yang kurang aktivitas fisik. Pertanyaan refleksinya adalah “Apakah kita termasuk di dalamnya?”

Bergerak bukan hanya karena tuntutan ekonomi, pekerjaan atau pendidikan saja, melainkan karena kita hidup. Bahkan kerapkali terjadi hal miris manakala orang terdorong bergerak saat ada perintah dokter dalam rangka rehabilitasi dari suatu penyakit. Padahal guru Biologi kita menyampaikan bahwa salah-satu ciri hidup adalah bergerak, karena bergerak adalah bagian dari fitrah manusia sebagai makhluk yang hidup. Kita bergerak karena hidup, bukan sekadar karena tuntutan hidup, harus melakukan ini ataupun itu.

Prinsip bahwa bergerak merupakan bagian dari fitrah manusia juga sejalan dengan ajaran Islam. Al-Qur’an memberikan isyarat bahwa manusia diperintahkan untuk berusaha, berjalan di muka bumi, dan memanfaatkan potensi yang Allah berikan secara aktif. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah SWT dalam Surat Al-Jumu’ah: 10 yang berbunyi:

فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَٱبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya: “Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.” 

Ayat ini menunjukkan bahwa ibadah bukanlah akhir dari aktivitas manusia; sebaliknya, itu adalah awal dari hidup yang penuh semangat. Setelah memperoleh kekuatan spiritual melalui salat, seorang Muslim diperintahkan untuk kembali aktif, berkeliling dunia, berusaha mencari karunia Allah, dan tetap mengingat-Nya. Sangat menarik bahwa ayat ini tidak hanya memerintahkan untuk bekerja, tetapi juga memerintahkan untuk mengingat-Nya saat bekerja. Oleh karena itu, Islam membangun keseimbangan antara spiritualitas dan produktivitas. Beribadah dengan khusyuk, kemudian bergerak, menghasilkan, dan memberikan kontribusi kepada kehidupan, semuanya sambil mempertahankan nilai-nilai Tuhan sebagai dasar dari setiap tindakan.

Bergerak merupakan akktivitas kebutuhan jasmani dan rohani manusia. Dengan aktif bergerak, selain bertujuan menjaga kesehatan fisik tentunya dapat membangun kesehatan mental, semangat, dan optimisme menjalani kehidupan. Sedangkan tubuh ini adalah amanah dari Yang Maha Kuasa untuk sepenuhnya dijaga bukan malah didiamkan atau malah dirusak. Cara menjaganya diserahkan secara otonom kepada masing-masing individu tersebut,. Sebagai contoh sederhana yang dapat kita lakukan yakni aktivitas fisik berjalan kaki, aktif dalam berbagai cabang olahraga, semangat bekerja, serta berkontribusi dalam membantu sesama.

Berbagai kemudahan yang dianugerahkan Allah SWT melalui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi jangan sampai melahirkan budaya malas gerak. Kita perlu memberikan batasan yang jelas antara istirahat yang diperlukan dengan kebiasaan bermalas-malasan. Istirahat adalah hak badan yang wajib dipenuhi, namun buakn berarti bermalas-malasan. Orang yang seringkali “dinina-bobokan” oleh media digital sehingga lupa dan mager, istilah zaman sekarang “PW” (posisi enak) sehingga produktivitasnya terganggu. Produktivitas bukan berarti terus bekerja dan bergerak tanpa henti, melainkan hidup yang seimbang antara bergerak bekerja maupun istirahat.

Lalu, bagaimana mengatasi kebiasaan malas bergerak? Beberapa langkah sederhana dapat dilakukan, diantaranya: 1) Memilih aktivitas fisik yang disenangi; 2) Memulai dari aktivitas yang mengandung 5M (mudah, murah, meriah, masal dan manfaat); 3) Berkumpul dengan komunitas atau orang-orang yang bergerak aktif; 4) Membuat jadwal “me time” atau fam-time”Buntuk olahraga; 5) Menetapkan target sasaran yang ingin dicapai; 6) Meningkatkan literasi fisik dengan banyak membaca karya ilmiah atau penyampaian materi dari padra ahli, dan lain sebagainya.

Ingatlah selalu bahwa karunia Allah bukan hanya gaji atau keuntungan ekonomi, namun juga termasuk ilmu pengetahuan, pengalaman, kesehatan, silaturahmi, pengabdian, dan kebermanfaatan. Ketika kita bergerak berarti membuka peluang untuk memperoleh berbagai bentuk karunia tersebut. Semakin aktif berikhtiar, semakin luas kesempatan berkembang. Jadikan aktivitas gerak sebagai bagian dari ibadah dan bentuk syukur atas kehidupan  Selama kehidupan masih dianugerahkan Allah, bergerak adalah cara kita mensyukuri nikmat hidup; sebab kita bergerak bukan sekadar untuk memenuhi tuntutan hidup, tetapi karena hidup itu sendiri adalah amanah yang harus dijalani dengan ikhtiar dan kebermanfaatan.

Rujukan:

  1. Kementerian Agama Republik Indonesia. Al-Qur’an Kemenag. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an. https://quran.kemenag.go.id
  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Dipublikasikan 28 Mei 2024. Diakses 6 Juli 2026. https://kemkes.go.id/id/survei-kesehatan-indonesia-ski-2023

Oleh: Dian Permana (Mahasiswa IAT Semester IV Institut As-Syifa)

Loading

Memelihara Keteguhan Batin di Era Riuhnya Media Sosial

0

Transformasi radikal dalam cara manusia berinteraksi, berkomunikasi, dan memandang citra diri tidak lepas dari masifnya perkembangan teknologi digital serta jagat siber. Media sosial telah bergeser fungsi; bukan lagi sekadar instrumen penghubung jarak jauh, melainkan ruang ekosistem baru bagi pembentukan, pembuktian, dan pengekspresian identitas personal. Sisi positifnya, fenomena digital ini membuka akses tanpa sekat terhadap berbagai diskursus dan syiar keagamaan. Namun, di sisi lain, pusaran dunia maya yang begitu bising berpotensi mengikis dimensi kemanusiaan yang paling mendasar, yakni spiritualitas.

Pada prinsipnya, spiritualitas menuntut adanya keheningan, refleksi mendalam, ketenangan jiwa, serta ketulusan niat. Karakter keheningan ini bertolak belakang dengan watak media sosial yang serbacepat, gaduh, superfisial, dan sangat bertumpu pada pengakuan publik ataupun validasi eksternal. Paparan informasi yang konstan disertai gangguan visual yang tiada henti kerap mengalihkan fokus manusia dari esensi transendental menuju hal-hal yang bersifat temporal dan bendawi. Alhasil, krusial bagi masyarakat modern terutama generasi muda untuk menemukan formula yang tepat dalam merawat kedalaman batin dan keteguhan iman agar tidak hanyut dalam derasnya arus digitalisasi.

Distorsi moral dan spiritual yang paling kentara di era digital tercermin pada pergeseran ketulusan niat demi mengejar popularitas semu. Sebagaimana diungkapkan dalam studi “Antara Like dan Ridha Allah” (Salsabila dkk., 2025), terdapat benturan psikologis sekaligus teologis yang nyata ketika remaja Muslim terjebak dalam obsesi mengumpulkan imbalan digital berupa likes dan views. Khazanah Islam mengajarkan bahwa pilar utama dari setiap kebajikan adalah keikhlasan murni serta kerendahan hati (tawadhu). Sebaliknya, sistem algoritma media sosial justru memicu hasrat egoistik untuk pamer (riya) dan menyuburkan narsisisme digital. Ketika apresiasi di dunia maya dijadikan takaran kebahagiaan, poros spiritual seseorang perlahan bergeser dari yang semula teosentris (berpusat pada Tuhan) menjadi egosentris (berpusat pada pemuasan ego pribadi).

Selain mengaburkan kemurnian niat, derasnya banjir informasi virtual juga berisiko mereduksi kesakralan pengalaman beragama. Hero Gefthi Firnando (2023) lewat analisis filosofisnya mengenai masyarakat kontemporer menjelaskan bahwa arus digitalisasi membawa dampak etis dan pergeseran nilai yang mendasar. Ritual keagamaan yang sejatinya bersifat intim, sakral, dan transformatif sering kali mengalami komodifikasi demi memenuhi estetika konten. Agama terkadang hanya direduksi menjadi pajangan visual di layar gawai, kehilangan ruh kontemplatifnya. Kebebasan ruang siber yang tanpa batas, jika tidak diimbangi dengan tanggung jawab moral, dikhawatirkan melahirkan pemahaman keagamaan yang instan, dangkal, dan sepotong-sepotong.

Kendati demikian, media sosial tidak lantas harus dipandang sebagai entitas negatif yang wajib dimusuhi sepenuhnya. Platform digital tetap menyimpan potensi besar sebagai instrumen pendukung kesejahteraan psikologis maupun spiritual. Temuan riset Selfi Arinie dan Surawan (2025) di IAIN Palangkaraya mengonfirmasi bahwa pemanfaatan konten religius secara bijak di media sosial berkontribusi positif terhadap psychological well-being kalangan mahasiswa. Kehadiran potongan khotbah, teks ayat suci, maupun petuah spiritual di linimasa dapat menjadi pengingat batin (tadzkirah) di tengah kepenatan aktivitas harian. Hal ini mempertegas bahwa teknologi pada dasarnya bersifat netral; dampak spiritual yang ditimbulkan sepenuhnya bergantung pada kedewasaan dan kontrol diri pengguna dalam memilah informasi.

Guna menjembatani dualisme tersebut, diperlukan strategi kontekstual yang memadukan ajaran spiritualitas klasik dengan kecakapan digital. Stefanus Padan (2025) memperkenalkan gagasan “Spiritualitas Digital”, sebuah konsep yang mengintegrasikan disiplin batin tradisional dengan kearifan memilih di dunia maya (digital discernment). Demi menjaga benteng keimanan, generasi muda dituntut mampu memilih lingkaran virtual yang sehat serta memilah konten yang menutrisi jiwa dari konten yang merusak ketenteraman batin. Selain itu, praktik menjauh sejenak dari gawai (digital fasting) menjadi elemen krusial agar manusia bisa kembali membangun kedekatan dengan Sang Pencipta melalui doa, meditasi, dan refleksi personal yang sunyi.

Dalam tradisi Islam, solusi paling efektif untuk mengatasi pendangkalan spiritual di era modern ini berakar pada ajaran dan metode tasawuf. Sebagaimana dipaparkan oleh Annisa Wahid dan Lailatul Maskhuroh (2018) dalam “Tasawuf dalam Era Digital”, nilai-nilai pendidikan tasawuf sangat adaptif sebagai instrumen penjaga kesadaran batin di tengah gempuran teknologi. Konsep seperti muhasabah (introspeksi diri), riyadah (olah spiritual), dan zuhud (tidak diperbudak materi duniawi) memberi ruang bagi jiwa untuk tetap jernih. Dengan menginternalisasi prinsip tasawuf, pengguna media sosial dibimbing untuk mengendalikan nafsu digitalnya seperti menahan diri dari jemari yang gemar mencela, tidak mempertontonkan kesalehan demi pujian, serta memupuk kesadaran bahwa Tuhan selalu mengawasi (muraqabah) bahkan di balik anonimitas dunia maya.

Penulis: Hafids Riangga (Mahasiswa IAT Semester IV Institut As-Syifa)

Loading

Literasi yang Memudar di Tengah Kemudahan Informasi

0

Di era perkembangan zaman yang begitu pesat dan teknologi yang begitu canggih telah mengubah cara manusia memperoleh informasi. Jika dahulu memperoleh informasi harus datang ke perpustakaan atau membeli koran, kini seluruh informasi bisa kita dapatkan dengan mudah hanya dengan membuka layar ponsel sudah tersedia berbagai platform digital untuk membuka sumber informasi, contohnya yang paling populer sekarang ada AI, Google, dll, yang menawarkan kemudahan mencari informasi secara cepat.

Namun ironinya kemudahan informasi di zaman modern ini justru menguak fakta yang sangat memprihatinkan khususnya di Indonesia, data mencatat menurut UNESCO minat baca di Indonesia hanya mencapai 0,001%. Artinya di antara 1.000 orang Indonesia, hanya 1 orang yang suka membaca, yang artinya sangat minim minat literasi di kalangan masyarakat juga mahasiswa, yang harusnya menjadikan literasi sebagai fondasi untuk mengembangkan pola pikir agar bisa berpikir kritis, sayangnya kemudahan informasi tidak selalu membuat masyarakat menjadi gemar membaca.

Rendahnya minat membaca menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat yang belum memahami makna literasi secara utuh. Literasi tidak hanya berarti kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami, mengolah, serta memanfaatkan informasi secara kritis dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, kemudahan memperoleh informasi seharusnya mendorong masyarakat untuk meningkatkan kualitas literasi, bukan justru mengurangi kebiasaan membaca. 

Kemudahan Informasi di Era Digital

Menurut saya internet telah memudahkan kita dengan membuka jutaan platform digital untuk mencari ilmu pengetahuan, seperti jurnal ilmiah, buku elektronik, video pembelajaran, artikel, bahkan perpustakaan digital kini bisa di akses kapan saja dan di mana saja. Selain itu kecerdasan buatan atau lebih sering kita sebut AI kini lebih mempermudah kita untuk mencari jawaban dari berbagai pertanyaan.

Kemudahan tersebut sebenarnya membuka peluang yang sangat besar untuk kita semua meningkatkan kualitas pendidikan dengan adanya bantuan dari berbagai platform digital juga AI yang sangat mempermudah, namun sayangnya kemudahan ini tidak dimanfaatkan dengan begitu baik oleh sebagian kita untuk meningkatkan dan memperdalam ilmu pengetahuan.

Mengapa Budaya Literasi Mulai Memudar?

Jika kita perhatikan ada beberapa faktor penyebab memudarnya literasi di kalangan masyarakat atau pendidikan, yaitu pola pikir manusia di zaman modern ini telah terdistraksi dengan adanya fenomena serba instan. Kemudahan yang kita dapatkan dengan adanya berbagai platform digital yang mempermudah kita mencari sumber ilmu pengetahuan justru membuat kita semua menjadi malas berpikir secara mendalam. Banyak orang lebih memilih sumber informasi atau jawaban secara instan daripada meluangkan waktu untuk membaca, memahami, dan menganalisis sumber informasi secara utuh.

Kondisi ini menurut saya semakin parah ketika munculnya AI. Kenapa?, karena bagi beberapa orang yang literasinya rendah AI bagaikan jalan pintas karena berbagai informasi dapat dengan mudah kita dapatkan hanya dengan hitungan detik, tanpa harus membaca buku atau membuka artikel, akibatnya AI sering disalahgunakan pemanfaatannya sehingga tingkat literasi semakin menurun. Padahal hakikat literasi bukan hanya sekedar menemukan informasi secara cepat tetapi bagaimana kita mampu memahami, mengolah, dan memanfaatkan informasi dengan baik.

Juga dengan adanya berbagai media sosial yang membuat seseorang terus terlena dengan konten-konten yang disediakan di media tersebut sehingga tanpa sadar sudah menghabiskan berjam-jam hanya untuk scroll konten yang menurutnya menarik, sehingga akibatnya buku atau tulisan di berbagai media informasi dianggap membosankan.

Dampak Menurunnya Budaya Literasi & Solusi Membangun Budaya Literasi

Saya mencantumkan beberapa dampak negatif yang paling menonjol yaitu diantaranya : 

a. Menurunnya kemampuan berpikir kritis

Kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan seseorang untuk memahami, mendalami, mengkaji berbagai sumber informasi dari berbagai sudut pandang kemudian menarik kesimpulan berdasarkan informasi yang diterima. Tentunya kemampuan ini tidak diperoleh secara instan, melainkan terbentuk karena kebiasaan membaca, mengkaji informasi, juga berdiskusi.

b. Mudah percaya hoaks

Minimnya literasi juga berdampak kepada seseorang dalam menerima informasi, orang yang minim literasi biasanya mudah terjebak ke dalam informasi palsu atau hoaks, dikarenakan  lebih cenderung menerima informasi secara langsung atau hanya dari sampulnya saja tanpa memeriksa sumber informasi secara jelas atau benar tidaknya

c. Kualitas lulusan pendidikan ikut menurun

Menurunnya minat literasi tidak hanya berdampak pada proses belajar mengajar di bangku pendidikan tetapi juga juga mempengaruhi di kualitas lulusan Pendidikan tersebut. Orang yang minim literasi biasanya hanya memiliki pemahaman yang rendah, mereka mungkin lulus tetapi belum tentu memiliki kemampuan atau ilmu yang seharusnya dimiliki oleh seseorang yang berpendidikan

Saya berpendapat bahwa membangun kembali budaya literasi memang tidak mudah, memerlukan prinsip dan konsistensi yang kuat yang harus ditanamkan kepada diri sendiri. Sebelumnya kita harus paham dulu seberapa penting literasi di dalam kehidupan kita, juga memerlukan waktu yang tidak sebentar karena membangun kebiasaan baru tidak semudah membalikkan telapak tangan. Untuk memulainya kita tidak harus membaca satu buku penuh atau seharian penuh cukup dengan menerapkan target sehari minimal 30 menit kita luangkan untuk membaca

Dikalangan pendidikan sekolah atau kampus dapat mengadakan kegiatan literasi seperti bedah buku, seminar, dan diskusi ilmiah. Selain itu, teknologi digital hendaknya dimanfaatkan sebagai sarana belajar, bukan hanya sebagai media hiburan. Sebagai seorang muslim, semangat membaca juga sejalan dengan ajaran Islam, wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad saw. diawali dengan perintah Iqra (bacalah), yang menunjukkan bahwa membaca dan menuntut ilmu merupakan fondasi penting dalam kehidupan.

Kemudahan memperoleh informasi merupakan salah satu keuntungan terbesar di era digital. Berbagai platform digital, internet, dan kecerdasan buatan (AI) telah memberikan akses yang sangat luas terhadap ilmu pengetahuan. Namun, kemudahan tersebut tidak akan memberikan manfaat apabila tidak diimbangi dengan budaya literasi yang baik. Informasi yang melimpah bukanlah jaminan seseorang memiliki pengetahuan yang luas, sebab pengetahuan hanya dapat diperoleh melalui kebiasaan membaca, memahami, mengkaji, dan berpikir secara kritis.

Oleh karena itu, sudah saatnya kita membangun kembali budaya literasi, terutama di kalangan pelajar dan mahasiswa sebagai generasi intelektual. Teknologi hendaknya dimanfaatkan sebagai sarana untuk memperkaya wawasan, bukan sebagai jalan pintas yang membuat kita malas berpikir. Sebagaimana ajaran Islam yang diawali dengan perintah Iqra’ (bacalah), membaca merupakan langkah awal dalam memperoleh ilmu dan membentuk peradaban. Dengan menjadikan literasi sebagai budaya, kita tidak hanya mampu menghadapi derasnya arus informasi, tetapi juga menjadi pribadi yang kritis, bijaksana, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan serta pembangunan bangsa.

Penulis: Soleh Iman Ramadhan (Mahasiswa IAT Semester IV Institut As-Syifa)

Loading

Media Sosial: Antara Pahala dan Dosa di Dalam Genggaman

0

Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Dalam menjalani kehidupan, manusia senantiasa membutuhkan komunikasi, interaksi, dan kerja sama dengan sesamanya. Melalui interaksi tersebut, manusia saling mengenal, bertukar pikiran, berbagi pengalaman, dan membangun peradaban.

Di era digital saat ini, perkembangan teknologi informasi telah menghapus sekat ruang dan waktu. Berkat media sosial, seseorang dapat berkomunikasi dengan orang lain yang berada di belahan dunia berbeda hanya dalam hitungan detik. Informasi, ilmu pengetahuan, budaya, hingga berbagai peristiwa dapat diakses melalui sebuah perangkat kecil yang berada dalam genggaman.

Fenomena ini sejatinya selaras dengan tujuan penciptaan manusia sebagaimana firman Allah swt. اَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ۝١

“Wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Media sosial menghadirkan begitu banyak manfaat. Kita dapat memperoleh ilmu baru, memperluas jaringan pertemanan, mengenal budaya dari berbagai daerah bahkan negara lain, serta menyebarkan informasi yang bermanfaat dengan sangat cepat.

Namun, sebagaimana pisau yang dapat digunakan untuk memasak sekaligus melukai, media sosial juga memiliki sisi gelap yang tidak boleh diabaikan. Jika tidak digunakan dengan bijak, ia dapat menjadi sumber dosa yang terus mengalir. Berikut lima dampak negatif media sosial yang patut menjadi perhatian.

1. Maraknya Penyebaran Berita Hoaks

Salah satu dampak negatif media sosial adalah begitu mudahnya berita bohong atau hoaks tersebar. Berbagai latar belakang pengguna, kepentingan pribadi, serta budaya mengejar popularitas dan viral sering kali membuat seseorang membagikan informasi tanpa terlebih dahulu memastikan kebenarannya.

Akibatnya, tidak sedikit individu maupun kelompok yang dirugikan. Pejabat negara, tokoh agama, bahkan masyarakat umum dapat menjadi korban fitnah akibat informasi yang belum terverifikasi.

Padahal Allah telah memberikan pedoman yang sangat jelas يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا ۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ ۝٦ “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seorang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan, yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6).

Prinsip tabayyun merupakan benteng utama seorang Muslim dalam menghadapi derasnya arus informasi di media sosial.

 2. Konten yang Merusak Akhlak

Media sosial saat ini dipenuhi berbagai konten hiburan. Sayangnya, tidak sedikit di antaranya justru merusak akhlak. Mulai dari tontonan yang mempertontonkan aurat, tarian yang tidak sesuai syariat, gaya hidup konsumtif, budaya makan yang jauh dari adab Islam, hingga promosi gaya hidup menyimpang dan normalisasi berbagai bentuk kemaksiatan.

Seorang Muslim hendaknya selektif terhadap apa yang ia lihat, karena apa yang sering dipandang akan memengaruhi hati dan perilaku. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ “Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi)

Hadis ini mengajarkan bahwa seorang Muslim tidak hanya menjaga lisannya, tetapi juga menjaga pandangan dan waktu dari hal-hal yang tidak membawa manfaat.

3. Pendangkalan Akidah

Bahaya lain yang tidak kalah serius adalah pendangkalan akidah. Saat ini tidak sedikit akun maupun siaran langsung yang secara terang-terangan mengajak kepada penyimpangan akidah bahkan pemurtadan, dengan jumlah penonton yang mencapai ribuan orang.

Fenomena ini menjadi tantangan besar bagi para dai, pendidik, dan mahasiswa Islam untuk terus memberikan edukasi, meluruskan pemahaman umat, serta menjaga keimanan masyarakat, khususnya kaum awam yang mudah terpengaruh oleh narasi di media sosial.

4. Meningkatnya Polarisasi dan Isu Sektarian

Media sosial juga sering menjadi arena perdebatan yang tidak sehat. Perbedaan pendapat yang semestinya dapat disikapi secara ilmiah justru berubah menjadi permusuhan, saling mencaci, bahkan saling menjatuhkan.

Perdebatan antar kelompok Islam, fanatisme terhadap tokoh tertentu, hingga munculnya berbagai label yang merendahkan pihak lain semakin memperuncing perpecahan di tengah umat. Padahal Islam mengajarkan ukhuwah, adab dalam berbeda pendapat, dan menghindari permusuhan yang tidak membawa manfaat.

5. Adu Domba dan Provokasi

Di antara dampak paling berbahaya dari media sosial adalah praktik adu domba. Tidak sedikit pihak yang sengaja memanfaatkan konflik kecil untuk diperbesar demi kepentingan tertentu, baik keuntungan ekonomi, politik, maupun popularitas.

Fenomena yang sering dikaitkan dengan aktivitas “buzzer” ini menjadikan media sosial sebagai alat untuk memecah belah masyarakat. Informasi dipotong, dipelintir, lalu disebarluaskan agar memancing emosi publik.

Karena itu, setiap Muslim harus berhati-hati dalam menerima, mempercayai, maupun menyebarkan informasi, terutama yang berpotensi merusak persatuan dan ukhuwah.

Media sosial pada hakikatnya hanyalah sebuah alat. Ia dapat menjadi ladang pahala yang terus mengalir, namun dapat pula berubah menjadi sumber dosa yang berkepanjangan. Semua bergantung pada bagaimana seseorang memanfaatkannya.

Sebagai seorang Muslim, kita tidak boleh menutup diri dari perkembangan teknologi. Sebaliknya, kita harus mampu memanfaatkannya sebagai sarana dakwah, pendidikan, penyebaran ilmu, serta penyebaran nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Bagi para penuntut ilmu, pendidik, dan dai, media sosial merupakan mimbar dakwah yang mampu menjangkau orang-orang yang mungkin tidak pernah hadir di majelis ilmu. Dengan konten yang bermanfaat, seseorang dapat menjadi sebab terbukanya hidayah bagi banyak orang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ “Barang siapa yang menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka ia akan memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim)

Semoga Allah menjadikan media sosial yang kita miliki bukan sebagai saksi atas keburukan yang kita lakukan, tetapi sebagai amal jariyah yang terus mengalirkan pahala hingga akhir hayat.

Oleh: Amri Siswanto (Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Institut As-Syifa)

Loading

Tantangan Umat Islam di Tengah Modernisasi dan Urbanisasi

0

Di tengah era globalisasi atau bahkan di akhir zaman ini, kita tentu tidak asing lagi dengan kata  modern dan urban, dimana akhir-akhir ini banyak sekali daerah-daera di negeri kita yang muali beralih dari  daerah yang notabene tradisional menjadi modern. Contoh saja Kab. Subang, daerah yang dulunya hanya hamparan kebun dan lahan pertanian ini lambat laun bertransformasi menjadi kota industri dengan berbagai macam pabrik – pabrik yang berdiri angkuh di sepanjang jalanan Subang. Ini tentu berdampak terhadap karakteristik masyarakatnya, dimana setiap perubanhan sosial terjadi pasti berdampak pada warganya, dan tentu memancing terjadinya urbanisasi dari kampung di sekitarnya, dan yang menjadi perhatian kita adalah seberapa kuat ummat islam menjaga jati dirinya di tengah gempuran moderenisasi dan urrbanisasi ini , mampukah mereka menjaga kekokohan akidah serta akhlaknya atau bahkan sebaliknya.

Urbanisasi telah menjadi salah satu arus perubahan paling masif dalam sejarah peradaban modern. Perpindahan penduduk dari desa ke kota bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan sebuah migrasi kultural yang mengubah pola pikir dan gaya hidup. Bagi umat Islam, kehidupan urban menyajikan lanskap baru yang penuh dengan kontradiksi. Di satu sisi, kota menawarkan pusat kemajuan ekonomi, intelektual, dan teknologi. Di sisi lain, ekosistem urban yang materialistis, individualis, dan serba cepat menghadirkan tantangan besar terhadap spiritualitas dan kohesi sosial umat.

Tantangan utama yang dihadapi umat Islam di lingkungan urban adalah ancaman sekularisasi perilaku dan pudarnya ruang komunal. Pola hidup kota yang kompetitif sering kali menuntut waktu dan energi yang menguras perhatian, sehingga ibadah ritualistik dan pengajian komunitas rentan terabaikan. Karakteristik masyarakat kota yang individualis juga perlahan mengikis konsep ukhuwah Islamiyah yang erat seperti di pedesaan. Akibatnya, banyak Muslim urban mengalami degradasi spiritual sebuah kondisi di mana mereka sukses secara material di tengah keramaian kota, namun merasa hampa dan terasing secara batiniah.

Kendati demikian, ruang urban juga memicu lahirnya kebangkitan ekspresi keagamaan baru yang dinamis dan inovatif. Kebutuhan akan spiritualitas di tengah penatnya kota melahirkan tren “Hijrah” dan maraknya kajian eksekutif di perkantoran mewah. Muslim urban menggunakan teknologi digital, media sosial, dan aplikasi pintar untuk mengakses ilmu agama, mengelola zakat, hingga mencari produk halal. Di kota pula, integrasi antara nilai Islam dan profesionalisme modern berkembang pesat, memicu pertumbuhan sektor ekonomi syariah, modest fashion, dan industri kreatif berbasis nilai-nilai religius.

Melihat kondisi ini, kunci eksistensi umat Islam di era urban terletak pada adaptasi yang cerdas tanpa mengorbankan prinsip dasar akidah. Masjid di kawasan urban tidak boleh lagi sekadar menjadi tempat ibadah ritual, melainkan harus bertransformasi menjadi pusat pemberdayaan sosial, psikologis, dan ekonomi warga kota. Pendekatan dakwah pun harus bergeser dari model indoktrinasi searah menjadi ruang diskusi yang inklusif, rasional, dan solutif terhadap problem nyata manusia urban, seperti stres kerja, kesehatan mental, dan pengasuhan anak di era digital.

Sebagai kesimpulan, kondisi umat Islam di era urban mencerminkan sebuah pergulatan identitas di tengah pusaran modernitas. Kota dapat menjadi tempat yang mengikis iman, namun sekaligus bisa menjadi laboratorium peradaban Islam yang maju dan modern. Melalui revitalisasi institusi keagamaan yang adaptif dan pemanfaatan teknologi yang bijak, masyarakat Muslim urban memiliki peluang besar untuk membuktikan bahwa Islam adalah agama yang relevan, solutif, dan mampu menuntun manusia di setiap zaman dan ruang kehidupan.

Oleh: Afifuddin (Mahasiswa IAT Semester IV Institut As-Syifa)

Loading

AI Bukan Pengganti Akal Dalam Pendidikan 

0

Beberapa tahun terakhir, perkembangan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan semakin berkembang pesat dan mulai menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Menurut UNESCO (2023), AI memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran apabila digunakan secara bertanggung jawab dan tetap mengutamakan peran manusia dalam proses belajar. Teknologi ini tidak hanya dimanfaatkan di dunia industri atau bisnis, tetapi juga telah masuk ke dunia pendidikan. Mahasiswa kini dapat memanfaatkan AI untuk mencari informasi, memahami materi perkuliahan, menerjemahkan bahasa asing, hingga membantu menyusun kerangka tulisan, bahkan banyak dari kalangan manusia yang ketergantungan dengan AI ini. Kehadiran AI tentu memberikan banyak kemudahan dalam proses belajar, terutama ketika mahasiswa membutuhkan penjelasan yang cepat dan praktis. 

Di balik berbagai kemudahan tersebut, penggunaan AI juga menimbulkan beragam pandangan. Sebagian orang menganggap AI sebagai inovasi yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, sementara sebagian lainnya khawatir bahwa penggunaan AI secara berlebihan dapat membuat mahasiswa menjadi kurang mandiri dalam berpikir dan menyelesaikan masalah. Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan, sebab kemampuan berpikir kritis, menganalisis, dan menyusun gagasan merupakan keterampilan yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi.

Menurut saya, AI merupakan alat yang sangat bermanfaat apabila digunakan secara bijak dan bertanggung jawab. AI seharusnya menjadi pendukung dalam proses belajar, bukan pengganti usaha mahasiswa untuk memahami materi. Oleh karena itu, penting bagi setiap mahasiswa untuk memanfaatkan AI sebagai sarana belajar yang membantu mengembangkan pengetahuan, tanpa mengesampingkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta integritas akademik. 

Beberapa tahun terakhir, perkembangan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan semakin berkembang pesat dan mulai menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Menurut UNESCO (2023), AI memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran apabila digunakan secara bertanggung jawab dan tetap mengutamakan peran manusia dalam proses belajar. Teknologi ini tidak hanya dimanfaatkan di dunia industri atau bisnis, tetapi juga telah masuk ke dunia pendidikan. Mahasiswa kini dapat memanfaatkan AI untuk mencari informasi, memahami materi perkuliahan, menerjemahkan bahasa asing, hingga membantu menyusun kerangka tulisan, bahkan banyak dari kalangan manusia yang ketergantungan dengan AI ini. Kehadiran AI tentu memberikan banyak kemudahan dalam proses belajar, terutama ketika mahasiswa membutuhkan penjelasan yang cepat dan praktis. 

Di balik berbagai kemudahan tersebut, penggunaan AI juga menimbulkan beragam pandangan. Sebagian orang menganggap AI sebagai inovasi yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, sementara sebagian lainnya khawatir bahwa penggunaan AI secara berlebihan dapat membuat mahasiswa menjadi kurang mandiri dalam berpikir dan menyelesaikan masalah. Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan, sebab kemampuan berpikir kritis, menganalisis, dan menyusun gagasan merupakan keterampilan yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi.

Menurut saya, AI merupakan alat yang sangat bermanfaat apabila digunakan secara bijak dan bertanggung jawab. AI seharusnya menjadi pendukung dalam proses belajar, bukan pengganti usaha mahasiswa untuk memahami materi. Oleh karena itu, penting bagi setiap mahasiswa untuk memanfaatkan AI sebagai sarana belajar yang membantu mengembangkan pengetahuan, tanpa mengesampingkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta integritas akademik. 

MANFAAT AI DALAM DUNIA PENDIDIKAN

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan yang cukup besar dalam dunia pendidikan. Bagi mahasiswa, AI bukan lagi teknologi yang asing, melainkan sudah menjadi salah satu alat yang sering digunakan untuk membantu proses belajar. Kehadirannya memberikan berbagai kemudahan yang membuat kegiatan belajar menjadi lebih efektif, terutama ketika mahasiswa menghadapi materi yang sulit dipahami atau memiliki keterbatasan waktu dalam mencari informasi. OECD (2020) menjelaskan bahwa AI dapat membantu menciptakan pembelajaran yang lebih personal, meningkatkan efisiensi belajar, serta mendukung peserta didik dalam memahami materi sesuai dengan kebutuhannya.

Salah satu manfaat AI adalah kemampuannya dalam membantu mahasiswa memahami materi perkuliahan. Tidak semua mahasiswa dapat langsung memahami penjelasan dosen atau isi buku hanya dengan sekali membaca. Dalam kondisi seperti ini, AI dapat digunakan untuk memberikan penjelasan dengan bahasa yang lebih sederhana sehingga materi menjadi lebih mudah dipahami. Selain itu, AI juga dapat memberikan contoh-contoh yang relevan sehingga mahasiswa memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai suatu konsep.

AI juga membantu mahasiswa dalam mencari referensi awal ketika akan mengerjakan tugas atau menulis karya ilmiah. Proses mencari ide yang sebelumnya membutuhkan waktu cukup lama kini dapat dilakukan dengan lebih cepat. Misalnya, AI dapat membantu menyusun kerangka tulisan, memberikan gambaran mengenai topik yang akan dibahas, atau menunjukkan kata kunci yang dapat digunakan untuk mencari jurnal dan buku yang relevan. Meskipun demikian, mahasiswa tetap harus memastikan bahwa referensi yang digunakan berasal dari sumber yang kredibel dan bukan hanya mengandalkan jawaban AI. Selain itu, AI dapat meningkatkan efisiensi belajar. Mahasiswa dapat memanfaatkan AI untuk merangkum materi yang panjang, menerjemahkan istilah asing, membuat latihan soal, hingga memberikan umpan balik terhadap hasil tulisan yang telah dibuat. Dengan berbagai kemudahan tersebut, mahasiswa memiliki lebih banyak waktu untuk berdiskusi, membaca referensi yang lebih mendalam, dan mengembangkan pemahaman terhadap materi yang sedang dipelajari. Oleh karena itu, apabila dimanfaatkan secara tepat, AI dapat menjadi teman belajar yang mendukung proses pembelajaran tanpa mengurangi peran aktif mahasiswa dalam mencari dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

TANTANGAN PENGGUNAAN AI DALAM DUNIA PENDIDIKAN

Di balik berbagai manfaat yang ditawarkan, penggunaan AI juga memiliki tantangan yang tidak boleh diabaikan. Kemudahan dalam memperoleh jawaban sering kali membuat sebagian mahasiswa tergoda untuk mengandalkan AI secara berlebihan. Akibatnya, proses berpikir, menganalisis, dan memecahkan masalah yang seharusnya menjadi bagian penting dalam pembelajaran justru mulai berkurang. Padahal, tujuan utama pendidikan bukan hanya memperoleh jawaban yang benar, tetapi juga melatih kemampuan berpikir kritis dan membangun pemahaman yang mendalam.

Selain itu, informasi yang diberikan oleh AI tidak selalu benar dan sesuai dengan fakta. AI dapat menghasilkan jawaban yang terdengar meyakinkan, tetapi terkadang mengandung kesalahan atau informasi yang sudah tidak relevan. Oleh karena itu, mahasiswa perlu membiasakan diri untuk memeriksa kembali informasi yang diperoleh melalui buku, jurnal ilmiah, atau sumber resmi lainnya. Sikap kritis dalam memverifikasi informasi menjadi keterampilan yang sangat penting agar tidak mudah menerima setiap jawaban tanpa melakukan pengecekan.

Tantangan lainnya adalah munculnya risiko pelanggaran integritas akademik. Tidak sedikit mahasiswa yang menggunakan AI untuk mengerjakan tugas secara instan, kemudian menyalin hasilnya tanpa melakukan penyuntingan atau memahami isi tulisan tersebut. Kebiasaan seperti ini dapat menghambat perkembangan kemampuan menulis, mengurangi kreativitas, bahkan berpotensi mengarah pada tindakan plagiarisme. Jika terus dibiarkan, mahasiswa akan kehilangan kesempatan untuk mengasah kemampuan berpikir dan menuangkan gagasannya sendiri. Oleh karena itu, penggunaan AI perlu disertai dengan kesadaran bahwa teknologi hanyalah alat bantu, bukan sesuatu yang harus dijadikan prioritas dalam proses belajar. 

Mahasiswa tetap memiliki tanggung jawab untuk membaca berbagai sumber, berdiskusi dengan dosen maupun teman, serta mengembangkan kemampuan berpikir secara mandiri. Dengan cara tersebut, AI dapat dimanfaatkan untuk memperkaya pemahaman, bukan menggantikan usaha dalam mencari ilmu. Pada akhirnya, kualitas seorang mahasiswa tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang digunakan, melainkan oleh kemampuan berpikir kritis, kejujuran akademik, dan kemauan untuk terus belajar. UNESCO (2023) juga mengingatkan bahwa penggunaan AI yang tidak disertai kemampuan berpikir kritis dapat menimbulkan ketergantungan dan mengurangi proses belajar yang bermakna.

MENGGUNAKAN AI SECARA BIJAK DALAM DUNIA PENDIDIKAN 

Menghadapi perkembangan teknologi yang semakin pesat, mahasiswa perlu memiliki sikap yang bijak dalam memanfaatkan AI. Kehadiran AI seharusnya dipandang sebagai sarana untuk mendukung proses belajar, bukan sebagai jalan pintas dalam menyelesaikan tugas. Dengan memanfaatkan AI secara tepat, mahasiswa dapat memperoleh manfaat yang maksimal tanpa mengurangi kemampuan berpikir dan belajar secara mandiri. Salah satu cara menggunakan AI secara bijak adalah menjadikannya sebagai teman berdiskusi. Mahasiswa dapat memanfaatkan AI untuk memperoleh penjelasan awal mengenai suatu materi, mencari ide, atau memahami konsep yang masih sulit dipahami. Setelah itu, informasi yang diperoleh perlu dibandingkan dengan buku, jurnal ilmiah, maupun penjelasan dosen agar kebenarannya dapat dipastikan. Dengan demikian, AI menjadi pelengkap dalam proses belajar, bukan satu-satunya sumber pengetahuan.

Selain itu, mahasiswa juga perlu menjaga kejujuran akademik dalam setiap tugas yang dikerjakan. Hasil yang diberikan AI sebaiknya tidak langsung disalin begitu saja, melainkan dipahami, dikembangkan, dan ditulis kembali dengan bahasa sendiri. Cara ini tidak hanya menghindarkan mahasiswa dari tindakan plagiarisme, tetapi juga membantu meningkatkan kemampuan menulis, berpikir kritis, dan menyampaikan gagasan secara lebih baik. Pada akhirnya, kecanggihan teknologi tidak akan berarti tanpa disertai dengan sikap bijak dari penggunanya. AI dapat menjadi sahabat dalam proses belajar apabila dimanfaatkan secara bertanggung jawab. Namun, kemampuan berpikir, kreativitas, dan integritas tetap menjadi nilai utama yang harus dimiliki setiap mahasiswa dalam menghadapi perkembangan teknologi di era digital.

Oleh: Wardah Qanita Azha (Mahasiswa IAT Semester IV Institut As-Syifa)

Loading

Pendidikan Akhlak: Benteng Generasi Muda di Tengah Krisis Moral

0

Belakangan ini kita sering banget disuguhi berita yang bikin miris soal perilaku anak muda. Mulai dari tawuran pelajar, perundungan di sekolah, sampai kasus-kasus kriminal yang pelakunya justru anak-anak usia sekolah. Rasanya aneh, di zaman yang katanya serba maju dan akses pendidikan makin gampang dijangkau, kok justru krisis akhlak di kalangan generasi muda terasa makin parah. Ini bukan cuma masalah satu dua anak nakal, tapi sudah jadi fenomena yang perlu kita renungkan bersama, terutama dari sisi pendidikan. 

Kalau dipikir-pikir, selama ini pendidikan kita cenderung fokus banget ke nilai akademik. Anak dituntut ranking bagus, nilai ujian tinggi, lolos masuk sekolah favorit, sementara pembentukan karakter dan akhlak sering cuma jadi pelengkap di mata pelajaran agama atau PPKn. Padahal kalau kita balik ke ajaran Islam, menuntut ilmu itu bukan cuma soal pintar, tapi soal jadi manusia yang lebih baik. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri diutus bukan untuk mengajarkan matematika atau sains, melainkan untuk menyempurnakan akhlak manusia. Jadi kalau pendidikan cuma mengejar kepintaran tanpa membentuk akhlak, ya wajar saja hasilnya timpang. 

Saya pribadi ngerasa fenomena ini juga nggak lepas dari lingkungan sekitar anak muda sekarang. Media sosial, pergaulan, sampai tontonan sehari-hari banyak yang isinya kekerasan, kata-kata kasar, atau gaya hidup yang jauh dari nilai agama. Anak-anak dan remaja menyerap semua itu tanpa filter yang cukup, apalagi kalau di rumah juga nggak ada pendampingan yang serius dari orang tua. Sekolah pun kadang cuma jadi tempat transfer pelajaran, bukan tempat menanamkan nilai. Akhirnya ada kekosongan besar antara apa yang diajarkan di kelas dengan apa yang benar-benar dibutuhkan anak untuk jadi pribadi yang berakhlak. 

Makanya, menurut saya pendidikan akhlak itu seharusnya nggak lagi jadi pelengkap, tapi jadi fondasi utama dalam proses belajar mengajar. Bukan berarti pelajaran umum jadi nggak penting, tapi porsinya harus seimbang. Guru agama misalnya, bisa lebih banyak mengajak diskusi soal masalah nyata yang dihadapi anak muda sehari-hari, bukan cuma menghafal dalil atau rukun-rukun ibadah. Begitu juga guru mata pelajaran lain, sebenarnya bisa ikut menyisipkan nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, dan empati dalam cara mereka mengajar, nggak harus selalu lewat ceramah panjang. 

Peran keluarga juga jadi kunci yang nggak bisa dianggap remeh. Sepintar apa pun kurikulum sekolah dirancang, kalau di rumah anak nggak dapat contoh dan pendampingan yang baik, hasilnya ya percuma. Orang tua perlu lebih dekat sama anak, mau dengerin cerita mereka, dan ikut mengarahkan tanpa harus terlalu keras atau otoriter. Kadang anak nakal bukan karena dia jahat, tapi karena dia nggak punya ruang aman buat cerita dan minta bimbingan, sehingga dia cari validasi ke tempat lain yang belum tentu baik buat perkembangannya. 

Lingkungan pesantren atau madrasah sebenarnya bisa jadi contoh menarik soal bagaimana pendidikan akhlak dan ilmu pengetahuan bisa berjalan beriringan. Di banyak pesantren, santri nggak cuma diajarin ilmu agama secara teori, tapi juga dibiasakan hidup disiplin, mandiri, dan saling menghormati lewat kehidupan sehari-hari bareng teman-temannya. Ada budaya saling mengingatkan, ada rasa malu kalau berbuat salah, dan ada figur kiai atau ustadz yang jadi teladan nyata, bukan cuma pengajar di depan kelas. Nilai-nilai itu yang kadang hilang di sekolah umum karena fokusnya cuma ke pencapaian akademik semata. Bukan berarti semua sekolah harus jadi pesantren, tapi semangat menyatukan ilmu dan akhlak ini yang perlu diadopsi lebih luas, termasuk di kampus dan lingkungan pendidikan tinggi. 

Tantangan lain yang nggak kalah penting adalah bagaimana pendidikan akhlak ini dikemas supaya nggak terkesan kaku atau menggurui buat anak muda sekarang. Generasi sekarang lebih gampang menerima nilai lewat cerita, diskusi, atau kegiatan langsung dibanding cuma dengerin nasihat satu arah. Makanya metode pembelajaran yang lebih interaktif, kolaboratif, dan dekat dengan keseharian mereka jadi penting supaya nilai-nilai akhlak itu benar-benar nempel, bukan cuma jadi hafalan yang lewat begitu saja setelah ujian selesai. 

Pada akhirnya, krisis moral yang kita lihat sekarang ini sebenarnya jadi alarm buat kita semua, bukan cuma tanggung jawab sekolah atau guru semata. Keluarga, masyarakat, dan lembaga pendidikan perlu sama-sama bergerak membangun ekosistem yang mendukung tumbuhnya akhlak yang baik pada generasi muda. Kita nggak bisa cuma nyalah-nyalahin anak muda sekarang tanpa mau introspeksi apakah sistem pendidikan dan lingkungan yang kita bangun sudah cukup mendukung mereka tumbuh jadi pribadi yang baik. Kalau ilmu dan akhlak bisa berjalan seimbang sejak dini, saya percaya generasi yang lahir nantinya bukan cuma pintar secara akademik, tapi juga punya kedewasaan sikap dan kedekatan dengan nilai-nilai agama yang bisa jadi bekal menjalani hidup, baik di dunia maupun kelak di akhirat. 

Oleh: Rizaldi Irsal Ghifari (Mahasiswa IAT Semester IV Institut As-Syifa)

Loading

Harmoni Di Tanah Sapaan

0

Modernitas di era 21 sering kali memaksa saya untuk menjalani kehidupan dengan cepat dan dikelilingi oleh batasan sosial yang semakin ketat. Di perkotaan besar, tembok rumah dibangun menjulang tinggi, gerbang besi dikunci dengan rapat, dan komunikasi antar tetangga sering kali hanya sebatas bunyi klakson atau tatapan singkat di depan lift gedung. Individu modern sering kali terperangkap dalam sebuah ironi berada di tengah keramaian namun mengalami kesepian yang sangat mendalam.

Desa Kalimanggis di sinilah saya tinggal, sebuah sudut rumah yang tak hanya memanjakan mata dengan lingkungannya yang asri, tetapi juga menghangatkan jiwa melalui senyum tulus warganya di sinilah tercipta pemandangan yg indah, udara yang sejuk, suara kicauan burung yang begitu riuh di padukan dengan senyum tulus yang selalu mekar di setiap sudutnya, juga tegur sapa yang ramah dari warga masyarakatnya. bagiku ini adalah  melodi indah harian yang selalu menyambutku. 

Sopan santun bukan lagi sekadar aturan tertulis yang dipaksakan, melainkan sebuah naluri yang mendarah daging, di mana yang muda menghormati yang tua, dan yang tua menyayangi yang muda dengan penuh kasih, siapa yang tidak nyaman dengan suasana seperti ini, saya yakin semua orang yang tinggal di desa ini akan merasakan hal yang mungkin sama,sayapun bangga bisa menjadi bagian dari masyarakat desa Kalimanggis, tak heran banyak pendatang seperti saya bisa langsung beradaptasi dan nyaman dengan lingkungan sekitar di sini, menurut warga di sini “sopo wonge sing tahu maring desa Kalimanggis cem kerasan” yang artinya “siapa saja yang datang ke desa Kalimanggis ini pasti akan betah” begitu kira-kira artinya karena diri sayapun belum lama tinggal di desa ini jadi belum terlalu paham akan bahasanya, 

Lalu pasti akan muncul di benak kita bagaimana bisa tercipta sebuah lingkungan yang harmoni di tengah gempuran zaman yang serba individualis? 

“Sejatinya kenyamanan dari sebuah tempat tinggal tidak hanya ditentukan oleh kebersihan fisiknya saja, tetapi jauh lebih mendalam, ia lahir dari kehangatan jiwa masyarakatnya yang saling menghormati dan hidup penuh kasih sayang. “

Desa Kalimanggis dengan lingkungan yang asri dan tatanan bangunan yang cukup rapi hingga ketika orang lain melewati desa ini mereka mengira desa ini seperti lingkungan perumahan,karena tempatnya asri dan tertata. Keramahan yang tercermin di tempat ini bukan sekadar formalitas, tetapi merupakan gambaran dari individu-individu yang memiliki kedamaian batin dengan diri mereka serta lingkungan di sekitar. 

Lingkungan yang bersih dan asri tidak tercipta secara kebetulan, melainkan merupakan cerminan langsung dari karakter masyarakatnya yang menjunjung tinggi sopan santun, kepedulian akan kebersihan serta rasa hormat antar sesama. Penduduk di tanah ini memahami betul bahwa alam adalah ibu yang memberi kehidupan, bukan komoditas yang harus dieksploitasi demi keuntungan sesaat.

Kebersihan lingkungan yang konsisten di tempat tinggal kami bukan terjadi karena adanya petugas kebersihan yang setiap harinya mengambil sampah, melainkan buah dari kesadaran warga masyarakatnya itu sendiri, karena kami menyadari akan bahaya yang ditimbulkan ketika sampah di buang dengan sembarangan, begitupun dengan rasa hormat yang di junjung tinggi yang muda menghormati yang lebih tua dan sebaliknya, dan yang lebih membuat saya takjub adalah ketika ada salah satu warga atau masyarakat yang sedang mengalami kesulitan ataupun yang sedang sakit warga di sini dengan sigap mengumpulkan donasi swadaya dan bergiliran mengirimkan makanan ke rumah yang bersangkutan. Mereka tidak memperhitungkan keuntungan dan kerugian atau waktu kerja, mereka hanya menyadari bahwa beban yang dipikul seseorang adalah tanggung jawab bersama. Di desa ini, tak ada seorang pun yang sesungguhnya menjadi orang luar karena setiap ucapan salam merupakan tawaran tersirat untuk bersantai dan bergabung dalam komunitas besar yang akrab. Hubungan sosial tidak terbentuk berdasarkan kondisi finansial atau kebangsaan, tetapi berlandaskan penghargaan timbal balik antar individu. Napas kehidupan warga semakin menawan berkat tradisi saling menolong yang melebihi batas transaksi modern. Di luar sana, sering kali bantuan diukur dengan benda atau lewat pertimbangan keuntungan dan kerugian. Namun di desa ini kerjasama merupakan tindakan nyata yang muncul secara tiba-tiba dari semangat empati.

Sesuai dengan konsep yang diajukan oleh Wilson, kedamaian mental yang muncul melalui kedekatan dengan alam inilah yang pada akhirnya merubah perilaku masyarakat di Tanah Sapaan menjadi individu yang bersahabat, senang berinteraksi, dan mengedepankan kerja sama. Lingkungan yang sehat terbukti menciptakan masyarakat yang social sehat.

Di tengah dunia modern yang saat ini mulai rapuh karena egoisme, keletihan, dan keterasingan sosial, Desa Kalimanggis muncul sebagai tanda pengingat yang tegas, tempat ini membuktikan bahwa kebahagiaan hidup yang sesungguhnya tidak diukur dari tinggi bangunan atau kecepatan akses internet, melainkan dari seberapa harmonis kita hidup berdampingan dengan alam, serta seberapa tulus kita bersedia membuka hati untuk membantu sesama. Kembali ke tanah yang hijau dan bersahabat sejatinya merupakan jalan untuk menjadi manusia yang utuh.

Saya memahami  bahwa standar kehidupan tidak ditentukan oleh kemewahan gedung-gedung beton yang kita miliki, melainkan oleh seberapa baik kita merawat lingkungan dan seberapa erat hubungan antarindividu yang kita jalin. Hidup dalam keharmonisan dengan alam dan bersikap ramah kepada tetangga adalah kekayaan yang semakin sulit ditemukan, tetapi kita selalu memiliki kesempatan untuk menghidupkannya kembali jika kita bersedia merendahkan ego dan membuka diri untuk saling menyapa.

Disusun Oleh: Dede Nurhayani (Mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Institut As-Syifa)

Loading

Realita Guru Honorer: Antara Gaji dan Kebutuhan

0

Pendidikan ialah pilar utama dalam mencerdaskan kehidupan bangsa guna membangun serta memperbaiki kualitas anak bangsa. Seiring kemajuan sistem pendidikan, terdapat peran besar para guru, baik honorer (GTT) maupun PNS, yang menjadi tiang penting dalam proses pembelajaran di sekolah maupun lembaga pendidikan lainnya, baik negeri maupun swasta. Guru honorer (GTT) adalah guru tidak tetap yang masa aktifnya ditentukan sesuai kebutuhan sekolah atau lembaga. Bahkan guru honorer sering kali menjadi penopang utama keberlangsungan operasional sekolah. Namun, dengan dedikasi tinggi tersebut, realita gaji yang diterima sering kali tidak sesuai dengan kebutuhan sehari-hari. Isu kesenjangan antara gaji dan kebutuhan guru honorer ini masih menjadi perbincangan hangat di kalangan guru baru. Sebagai saudara dari beberapa pengajar, saya melihat perlunya refleksi mendalam mengenai posisi guru honorer khususnya swasta setelah melakukan wawancara singkat terkait kebutuhan dan gaji yang mereka Terima, apa sudah cukup apa masih kurang.

Pengalaman seorang  pengabdi selama empat tahun di jenjang Sekolah Dasar (SD) memberikan pandangan tersendiri mengenai profesi ini. “Mengatur anak-anak SD butuh kesabaran dan energi yang luar biasa,” ungkap narasumber pertama. Terkait gaji, beliau mengungkapkan bahwa penghasilannya sudah sesuai UMR dan diberikan setiap bulan. Tantangan pada jenjang ini bukan hanya dalam hal pengajaran, melainkan juga mengatur kegiatan sekolah bagi anak didik yang memerlukan perhatian lebih.Berbeda dengan narasumber kedua yang mengabdi selama satu tahun di jenjang Madrasah Aliyah (MA)swasta. Meskipun secara sistem honor diberikan per bulan, realitanya honor tersebut sering kali baru diterima beberapa bulan sekali dan dihitung berdasarkan jam mengajar. Tantangan yang beliau alami di jenjang ini adalah menghadapi remaja yang mulai kritis, bahkan berisiko bolos sekolah.

Terkait pemenuhan kebutuhan hidup, jawaban narasumber menunjukkan perbedaan yang kontras. Narasumber pertama merasa cukup, “Alhamdulillah cukup, karena makan sudah ditanggung yayasan.” Sebaliknya, narasumber kedua merasa masih kurang, “Tentu masih kurang, apalagi saya sudah berkeluarga dengan dua anak. Belum lagi kebutuhan dapur dan jajan anak.” Bagi sebagian guru, pendapatan yang ada disyukuri sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan dasar. Namun, beban biaya pendidikan anak dan operasional rumah tangga menjadi tantangan nyata yang mendorong banyak guru honorer mencari pekerjaan tambahan demi mempertahankan kesejahteraan keluarga.

Seorang guru seharusnya memiliki ketenangan pikiran agar bisa fokus mencurahkan ilmunya. Besaran honor yang disesuaikan dengan Upah Minimum Regional (UMR) setempat adalah standar kelayakan yang memberikan rasa aman secara finansial. UMR lebih dari sekadar uang pengganti bensin atau makan; honor yang layak adalah bentuk apresiasi atas tenaga dan pikiran yang dicurahkan. Faktanya, di daerah pedesaan, gaji yang diterima guru honorer masih jauh dari kata layak karena hanya dihitung per jam mengajar tanpa tunjangan tambahan. Tanpa keseimbangan antara kewajiban dan hak, dikhawatirkan kualitas pengajaran akan terganggu oleh beban pikiran ekonomi rumah tangga.

Kami sangat berharap pemerintah dan pihak sekolah lebih memperhatikan kesejahteraan guru honorer, baik di sekolah negeri maupun swasta. Para guru memiliki tujuan mulia untuk mencerdaskan anak bangsa. Jika kebijakan yang disepakati justru diskriminatif, hal ini akan menghambat motivasi dan semangat pengabdian. Profesi guru memang dipandang mulia, namun jika masalah gaji terus disepelekan, muncul kekhawatiran dari guru generasi baru: “Gaji segini, mending jadi buruh pabrik atau berjualan saja.” Jika ini terjadi, kita akan kekurangan tenaga didik di masa depan. Siapa yang akan mencerdaskan anak bangsa jika jasanya disepelekan? Maka, diperlukan pengaturan gaji minimum agar guru tidak menerima upah jauh di bawah kata layak.

Kesejahteraan adalah pintu seseorang untuk membuka dan mengambil peluang baru. Saya berharap pemerintah dapat menyeimbangkan perhatian kepada guru negeri maupun swasta. Guru honorer layak mendapatkan perhatian yang lebih baik agar gaji mereka tidak jauh di bawah standar minimum pemerintah. Jika guru sejahtera, mereka pun mampu mengajar dengan tenang, kreatif, dan inovatif tanpa terganggu fokusnya. Semoga ke depannya, profesi guru honorer, khususnya swasta, menjadi pekerjaan sekaligus pengabdian mulia yang dihormati, diakui, dan dijamin kesejahteraannya oleh negara serta lembaga pendidikan terkait. Semoga dedikasi yang diberikan guru dan imbalan yang didapatkan menjadi seimbang dan bermanfaat.

Penulis: Siti Munjiyatun (Mahasiswa IAT Semester IV Institut As-Syifa)

Loading

Mimpi Menjadi Pemimpin: Internalisasi Nilai Kepemimpinan Qur’ani Dalam Karakter Generasi Muda

0

“Setiap orang adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari No 1829).

“Siapa yang ingin jadi pemimpin?”. Pertanyaan sederhana ini hampir selalu disambut dengan antusias. Tidak sedikit anak-anak, pelajar, maupun mahasiswa yang bercita-cita menjadi pemimpin, baik sebagai guru, kepala sekolah, pemimpin organisasi, pengusaha, maupun pemimpin bangsa. Namun, di balik cita-cita itu, muncul pertanyaan yang patut direnungkan: apakah menjadi pemimpin hanya tentang meraih jabatan ataukah tentang kesiapan memikul amanah? Mimpi tersebut merupakan hal yang positif karena menunjukkan adanya harapan untuk kontribusi bagi masyarakat. Akan tetapi, menjadi pemimpin bukan persoalan meraih jabatan, melainkan kesiapan memikul amanah dan tanggung jawab. Tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini jauh lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya. Berada di pusaran era disrupsi digital dan globalisasi, pemuda dengan sangat mudah terpapar pada berbagai nilai yang saling berbenturan. Fenomena krisis identitas, maraknya pragmatisme, memudarnya integritas, hingga rapuhnya resiliensi mental akibat tekanan sosial media menjadi bukti nyata adanya ancaman degradasi moral (Hasanah & Rahmawati, 2023). Pemuda hari ini pintar secara digital, namun rentan mengalami disorientasi nilai. Kehilangan kompas moral inilah yang membuat banyak potensi kepemimpinan muda layu sebelum berkembang, atau justru terjebak pada pusaran kompetensi tanpa hati (competence without character). Realitas kehidupan saat ini memperlihatkan bahwa masyarakat masih dihadapkan pada berbagai persoalan yang berkaitan dengan kepemimpinan.

Menurut Kuntowijoyo dalam bukunya yang berjudul Selamat Tinggal Mitos, Selamat Datang Realitas menyatakan bahwa bangsa Indonesia sedang mengalami krisis, yaitu krisis keteladanan. Ikhlas telah digantikan oleh pamrih, altruisme digantikan oleh individualisme. Generasi muda telah kehilangan teladan karena yang dahulunya pahlawan sekarang dapat berubah menjadi pengkhianat, sebaliknya yang dulunya pengkhianat bisa berubah menjadi pahlawan. Yang dulunya menjadi bagian dari demonstran untuk meruntuhkan orde baru sekarang malah menjadi teknokrat yang anti kritik. Ada kemungkinan kita sedang mengalami penyusutan nilai, pengalaman, dan kebijakan. Pemimpin yang seharusnya mampu memberikan keteladanan yang baik pada masyarakat justru melakukan tindakan yang jauh dari kata teladan. Perilaku korupsi, hidup mewah ditengah masyarakat yang kelaparan, dan memudarnya kepedulian terhadap penderitaan rakyat sudah menjadi warna kehidupan para pemimpin. Nilai, moral, kejujuran, dan kebenaran yang selalu digaung-gaungkan tidak lagi menjadi landasan bagi pemimpin untuk menentukan kebijakan. Parahnya, perilaku yang harusnya di adili ini malah dilindungi oleh hukum. Penegak hukum sebagai benteng keadilan justru kerap kali tidak berpihak kepada kebenaran. Berita tindak korupsi dan penyuapan tidak hanya dilakukan oleh para pejabat pemerintahan tapi juga dilakukan oleh penegak hukum, sehingga kita juga sering mendengar ada banyak hakim, jaksa dan pengacara yang tertangkap tangan terlibat dalam kasus korupsi dan penyuapan. Menurut databoks, berdasarkan data KPK jumlah aparat penegak hukum yang tersandung kasus korupsi (2004-2022) ada sebanyak 34 orang, dengan rincian ada 21 koruptor dengan jabatan hakim, 10 koruptor dengan jabatan jaksa, serta 3 orang dari kepolisian. Jumlah tersebut merupakan jumlah yang telah tertangkap dan telah berurusan dengan hukum, namun untuk kasus yang tidak tertangkap mungkin saja akan lebih banyak dan bahkan institusi pemerintahan yang dianggap sebagai lembaga yang sahid pun telah ikut terlucuti. Ketika lembaga tertinggi dan terhormat telah ternodai, maka lapisan bawah dalam hal ini adalah masyarakat ikut mengalami tekanan berat yang mengakibatkan perubahan sudut pandang terhadap pemerintahan dan masa depan negara. Jika kita sudah kehilangan examplary center yang baik maka akan sulit mengarahkan orang ke jalan yang lebih baik, begitu pula dengan generasi muda sekarang mereka akan sulit menjadi pribadi yang bermoral karena minimnya role model yang memberikan contoh perilaku bermoral di zaman ini.

Mimpi Menjadi Pemimpin Dimulai dari Karakter

Setiap perubahan besar dalam sejarah sebuah peradaban selalu menempatkan generasi muda sebagai aktor utamanya. Pemuda adalah pemilik sah dari masa depan: di tangan merekalah arah, warna, dan kualitas suatu bangsa ditentukan (Arifin, 2021). Memiliki mimpi untuk menjadi seorang pemimpin adalah langkah awal yang krusial bagi setiap pemuda karena mimpi melahirkan visi, dan visi menggerakkan aksi. Namun, dalam realitas empiris hari ini, jarak antara mimpi tersebut dengan realitas kepemimpinan yang nyata seringkali dipisahkan oleh jurang yang teramat dalam; visi yang besar tanpa fondasi karakter yang kokoh hanya akan melahirkan ambisi kekuasaan yang tuna moral dan destruktif (Lickona, 2013). Pertanyaannya kemudian, ketika tongkat estafet masa depan bangsa siap diserahkan, bagaimanakah cara menjembatani mimpi besar generasi muda agar tidak sekadar menjadi angan-angan, melainkan bertransformasi menjadi karakter pemimpin nyata yang berlandaskan nilai-nilai transendental Al-Qur’an?

Mimpi menjadi pemimpin adalah salah satu dorongan paling universal dalam sejarah manusia.Secara psikologis, manusia memiliki kebutuhan dasar yang disebut kebutuhan akan kemandirian (need for autonomy). Banyak orang ingin memimpin karena mereka tidak suka disetir oleh orang lain. Menjadi pemimpin memberikan kekuatan untuk menentukan arah, membuat keputusan, dan mengendalikan nasib sendiri maupun kelompoknya, alih-alih hanya menjadi pelaksana dari keputusan orang lain.Menjadi pemimpin secara otomatis menaikkan status sosial seseorang di dalam ekosistemnya. Ada rasa hormat, prestise, dan pengakuan dari lingkungan yang memuaskan ego atau kebutuhan eksistensial manusia. Posisi ini memberikan panggung untuk didengar, dihormati, dan memiliki pengaruh besar dalam mengubah kebijakan atau aturan.Sejak zaman primitif hingga modern, pemimpin hampir selalu mendapatkan porsi sumber daya yang lebih besar baik berupa materi, fasilitas, jaringan (networking), hingga kompensasi finansial. Bagi sebagian orang, dorongan ini bersifat pragmatis: kepemimpinan adalah jalur tercepat menuju kesejahteraan dan keamanan posisi sosial.Tidak semua orang mengejar kepemimpinan demi ego. Ada kelompok orang yang didorong oleh rasa gelisah melihat ketidakadilan, kekacauan, atau potensi yang tersia-sia di sekitarnya. Mereka ingin memimpin karena merasa memiliki visi solusi yang lebih baik dan ingin melayani serta membawa kemaslahatan bagi orang banyak (servant leadership).

Kepemimpinan dalam Perspektif Al-Qur’an

Dalam perspektif Islam, kepemimpinan bukan sekadar kedudukan, melainkan amanah. Al-Qur’an mengingatkan agar setiap amanah disampaikan kepada yang berhak dan setiap keputusan ditegakkan dengan adil (QS. An-Nisā’ [4]: 58). Amanah menjadi pondasi utama yang menjaga seorang pemimpin agar tidak menyalahgunakan kekuasaan. Sementara itu, keadilan menjadi ukuran keberhasilan kepemimpinan karena keputusan yang adil akan melahirkan kepercayaan masyarakat.

Mimpi menjadi pemimpin seharusnya tidak dimulai ketika seseorang memperoleh jabatan, tetapi jauh sebelumnya, yaitu ketika ia belajar memimpin dirinya sendiri. Disiplin terhadap waktu, jujur dalam setiap tindakan, bertanggung jawab terhadap tugas, menghargai pendapat orang lain, dan berani mengakui kesalahan merupakan latihan kepemimpinan yang sesungguhnya. Kebiasaan-kebiasaan kecil tersebut akan membentuk karakter yang kuat ketika suatu saat amanah yang lebih besar diberikan.

Di sinilah peran keluarga, sekolah, dan perguruan tinggi menjadi sangat penting. Pendidikan tidak hanya bertujuan mencetak lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga membentuk pribadi yang berintegritas. Mahasiswa, misalnya, tidak hanya dipersiapkan menjadi sarjana, tetapi juga calon pemimpin yang mampu membawa perubahan positif di tengah masyarakat. Organisasi kemahasiswaan, kegiatan sosial, dan budaya akademik merupakan ruang yang efektif untuk melatih kepemimpinan yang bertanggung jawab.

Pada akhirnya, bangsa ini tidak hanya membutuhkan pemimpin yang cerdas, tetapi juga pemimpin yang jujur, adil, dan mampu menjaga amanah. Oleh karena itu, mimpi menjadi pemimpin hendaknya tidak berhenti sebagai cita-cita, melainkan diwujudkan melalui usaha yang sungguh-sungguh dalam membentuk karakter. Sebab, pemimpin sejati bukanlah mereka yang paling tinggi kedudukannya, melainkan mereka yang paling besar manfaatnya bagi sesama. Urgensi pembentukan karakter kepemimpinan juga diperkuat oleh berbagai hasil penelitian di bidang pendidikan. Berbagai kajian menunjukkan bahwa kepemimpinan yang efektif tidak hanya ditentukan oleh kemampuan manajerial, tetapi juga oleh karakter seperti integritas, tanggung jawab, kemampuan bekerja sama, dan kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai tersebut tidak tumbuh secara instan, melainkan melalui proses pendidikan yang berkelanjutan di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dengan demikian, pembentukan karakter perlu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pendidikan.

Dalam perspektif Islam, pendidikan karakter memiliki landasan yang kuat. Al-Qur’an menggambarkan manusia sebagai khalifah (QS.Al-Baqarah: 30) di bumi yang memikul tanggung jawab untuk memakmurkan kehidupan serta menjaga nilai-nilai keadilan dan amanah. Karena itu, kepemimpinan bukanlah hak istimewa yang bertujuan memperoleh kehormatan, melainkan amanah yang harus dipertanggung jawabkan. Semakin besar amanah yang diterima seseorang, semakin besar pula tanggung jawab moral yang harus dipikulnya. Mimpi menjadi pemimpin seyogianya dimaknai sebagai motivasi untuk terus memperbaiki diri. Seorang mahasiswa yang disiplin dalam belajar, jujur dalam mengerjakan tugas, bertanggung jawab terhadap kewajibannya, dan mampu bekerja sama dengan orang lain sesungguhnya sedang menyiapkan dirinya menjadi pemimpin masa depan. Kepemimpinan bukanlah sesuatu yang lahir ketika seseorang memperoleh jabatan, tetapi tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan baik yang dilakukan secara konsisten. Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam melahirkan generasi pemimpin yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas moral. Kegiatan organisasi kemahasiswaan, pengabdian kepada masyarakat, diskusi ilmiah, dan budaya akademik merupakan sarana yang efektif untuk menumbuhkan jiwa kepemimpinan. Ketika ilmu pengetahuan dipadukan dengan akhlak yang baik, maka akan lahir pemimpin yang mampu menghadirkan perubahan positif bagi masyarakat.

Mengubah potensi “mimpi” generasi muda menjadi realitas “pemimpin” yang berkarakter memerlukan kompas moral yang kokoh di tengah arus disrupsi digital. Al-Qur’an menawarkan paradigma kepemimpinan profetik melalui sifat siddiq (integritas), amanah (akuntabilitas), tabligh (komunikasi transformatif), dan fathonah (kecerdasan visioner) sebagai fondasi utama rekonstruksi karakter pemuda.

Penulis: Haryani (Mahasiswa IAT Semester IV Institut As-Syifa)

Loading

0FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe

Recent Posts